Selasa, 27 November 2012

Alih-aksara dan Alih-bahasa Prasasti Kapuhunan (Pintang Mas)

Bandingkan dengan ini ^^

1.   (swasti śākawar)ṣatīta 800 śrawaṇa māsa tithī trayodaśi kṛṣṇapakṣa, pa, u, śu, wāra. tatkāla dyah puṭu dinulur de ni ramanira i kapuhunan, juru pu go
2.    . . . tuhawanua sang ādīkā, muang sang subha muang sang tarā sang garyya daṇḍa si kuping. nāhan kwaih rāmanta dumulur dyah puṭu kālanya n pinuput pamuat ni
3.    simanira i pintang mas, kāla pitāmaha ing kailāśa wineh i mangulihi. kunang parbhaktyanya i bhaṭāra śrī haricandana kayatnāknanira muang anak wka
4.    nira katka dlaha. tan pīṭhā i tkani kapūjān bhaṭāra haricandana ing tri samwatsarādi, prasama buka pintu mangasĕakna ya pasang bras tahilan
5.    i muang phalāphalinya i bhaṭāra. muwah tkani kapūjān bhaṭāra buatthyang pisan ing satahun mapuñjunga sira agawaya annalingga pamūja i bha
6.    ṭāra brahmā. muwah mārgaśira māsa makhakāla mangasĕakna ya pasang bras tahilan muang phalāphalinya i bhaṭāra haricandana. mānamwah

Kamis, 25 Oktober 2012

Alih-aksara Prasasti Mantyasih bg. 8

Alih aksara sebelumnya: pertamakeduaketigakeempatkelimakeenam, dan ketujuh.



Baris 22-25 pada prasasti Mantyasih lempeng 1a.

Alih-aksara:

22. t winkas saŋ samwa rama ni dhanañjaya // i tiruan winkas si lwar rama ni sutiṣṇa // ri airhulu si kidut rama ni karṇnī // i sulaṅkuni winkas si kudha rama ni ḍiḍi // i laṅkatañjuŋ winkas si  sahi rama ni tamu(_) // i samalagi si ta


Senin, 22 Oktober 2012

Alih-aksara Prasasti Mantyasih bg. 7

Alih aksara sebelumnya: pertama, kedua, ketiga, keempatkelima, dan keenam.


Baris 19-21 prasasti Mantyasih lempeng 1a.


Alih-aksara:


19. waŋ // parujar ni patiḥ kayumwuṅan si harus rama ni kudu ' sukun si watu rama ni wīryyan ' airbaraṅan si wiśala kapua winaiḥ pirak mā 5 wḍihan raṅga yu 1 sowaŋ sowaŋ kalima iŋ ptir si wujuk rama ni nakula ‘ juru si ja

Minggu, 21 Oktober 2012

Alih-aksara Prasasti Mantyasih bg. 6

Alih aksara sebelumnya: pertamakeduaketigakeempat, dan kelima.

Baris 16-18 prasasti Mantyasih lempeng 1a.

Alih-aksara:

16. pān pu kṛṣṇa wanua i sumaṅka watak taṅkil sugiḥ kapua winaiḥ mas mā 4 wḍihan raṅga yu 1 sowaŋ sowaŋ // saŋ juru i patapān mataṇḍa pu soma ' juru ni lampuran rakai pipil ' juruniŋ kalulusaŋ nirmala ' juru ni marakat

Jumat, 19 Oktober 2012

Alih-aksara Prasasti Mantyasih bg. 5

Alih aksara sebelumnya: pertama, kedua, ketiga, dan keempat.

Baris 13-15 prasasti Mantyasih lempeng 1a.

Alih-aksara:

13. winaiḥ mas su 2 kain blaḥ // juru i ayam tĕas rua miraḥ pu rayuŋ wanua i miraḥ miraḥ watak ayam tĕas maraṅka pihalaran pu dhanada wanua i paŋḍamuan sīma ayam tĕas // juru i makudur rua 

Kamis, 18 Oktober 2012

Alih-aksara Prasasti Mantyasih bg. 4

Alih-aksara bagian satu, dua, dan tiga.


Baris 10-12 prasasti Mantyasih lempeng 1a.

Alih-aksara:


10. rakryān mapatiḥ i hino mahā mantrī śrī dakṣottama bāhubajra pratipakṣakṣaya ' inaŋsāan mas su 1 mā 4 wḍihan gañjar patra si siyu 1 rakryān halu pu wīrawikuma ' rakryān sirikan pu wuriga samara wikrā

Selasa, 16 Oktober 2012

Alih-aksara Prasasti Mantyasih bg. 3

Lihat bagian satu, dan dua.
Baris 7-9 Prasasti Mantyasih Lempeng 1a

Alih-aksara:


7. tan ikanaŋ wanua iŋ kuniŋ ' si narabhārānta ikanaŋ patiḥ rumakṣā ikanaŋ hawān ' nahan mataṅyan i ṇanugrahākan nikanaŋ wanua kāliḥ i rikanaŋ patiḥ // kunaŋ parṇnaḥ hanya tan tatamāna de saŋ paṅkar tawān tirip ' muaŋ saŋ 

Alih-aksara Prasasti Mantyasih bg. 2

Alih-aksara sebelumnya cek di sini...


Baris 4-6 prasasti Mantyasih lempeng 1a

Alih-aksara:


4. tak patapān ' sinusuk sīmā kapatihana ' paknānya pagantyagantyana nikanaŋ patiḥ mantyāsiḥ sādak lawasanya tluŋ tahun sowaŋ kwaiḥ nikanaŋ patiḥ sapuṇḍaḥ pu sna rama ni ananta ' pu kolara ' manidili ' pu puñjĕŋ

Sabtu, 13 Oktober 2012

Alih-aksara Prasasti Mantyasih bg. 1

Diperbarui pelan-pelan :)
Prasasti lengkapnya ada di sini.



Baris 1-3 prasasti Mantyasih lempeng 1a

Alih-aksara:

1. //0// swasti śaka warṣātīta 829 caitra māsa ' tithi ekadaśi kṛṣṇapakṣa ' tu ' u ' śa ' wāra ' pūrwwabhadra nakṣatra ' ajapāda dewatā ' indrayoga ' tatkāla ājña śrī mahārāja rakai watukura dyaḥ balituŋ śrī da 

Selasa, 09 Oktober 2012

Alih-aksara Prasasti Layuwatang

Foto tiga ukiran prasasti di bawah merupakan gambar dari prasasti Layuwatang yang memiliki empat sisi. Dua sisi yang diukir tulisan dan satu sisinya diukir motif wajra. 

OD-4185; Prasasti Layuwatang sisi 1



Alih-aksara:
(1) swasti śakātī-(2)ta 767 tatkā-(3)la saŋ layuwa-(4)taŋ pu manaŋguŋ || (5)sima

Prasasti Pasir Panjang yang beraksara Lantsa!

      Catatan tertua tentang masuknya aksara Nāgarī telah adalah tahun 700 Masehi. Aksara Nāgarī  berkembang di India yang menurunkan banyak sistem penulisan di sana. Aksara ini merupakan aksara yang berasal dari daerah timur laut India, berbeda dengan Pallawa yang berasal dari bagian India Selatan. Jenis aksara ini pun beraneka ragam di beberapa prasasti. Di Pasir Panjang, ditemukan yang satu ini; aksara yang disebut Nāgarī Awal. Aksara ini mirip dengan aksara Rañjana atau Lantsa yang sebagian besar digunakan oleh penganut Mahāyāna di daerah Nepal dan Tibet. Karimun Besar bukan merupakan daerah penting dalam dunia pemerintahan terdahulu, oleh karena itu penemuan prasasti ini cukup mengagetkan. Prasasti ini diduga dibuat pada tahun 900-1000 Masehi pada akhir masa Śrīwijaya oleh para terpelajar yang sudah belajar di negeri India (Bengal). Prasasti ini diukir di permukaan batu granit, dengan tiga baris tulisan dan 17 aksara.

Gambar 1. Foto prasasti diambil dari atas.
Sumber:  Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 150 (1994), no: 3.



Gambar 2. Foto prasasti diambil dari bawah.
Sumber: http://2.bp.blogspot.com/_t-zFMe3ahlY/TLqxj7wmHQI/
AAAAAAAADPI/oIlo8u3nH4c/s1600/
untitled.bmp

Gambar 3.
Lihat ligatur gau  pada alinea 3 (OD-20248).

Gambar 4.
Repro prasasti dengan aksara Ranjana (sumber:pribadi)



Alih-aksara Aksara di Arca Agastya

OD-1176c

      Ada tujuh Maha Rsi yaitu Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasista, dan Kanwa yang menerima wahyu Weda di India sekitar 3000 tahun sebelum Masehi.  Mereka mengembangkan agama Hindu masing-masing menurut bagian-bagian Weda tertentu. Kemudian para pengikutnya mengembangkan ajaran yang diterima dari guru mereka sehingga lama kelamaan terbentuklah sekta-sekta yang jumlahnya ratusan. 
     Sekte-sekte yang terbanyak pengikutnya antara lain: Pasupata, Linggayat Bhagawata, Waisnawa, Indra, Saura, dan Siwa Siddhanta. Sekta Siwa Siddhanta dipimpin oleh Maha Rsi Agastya di daerah Madyapradesh (India tengah) kemudian menyebar ke Indonesia. 



Gambar 1. Arca Rsi Agastya dari Singasari

      Di Indonesia seorang Maha Rsi pengembang sekta ini dikenal dengan berbagai nama antara lain : Kumbhayoni, Hari Candana, Kalasaja, dan Trinawindu. Di Indonesia dengan jelas disebut dalam prasasti Dinaya.

Alih-aksara Prasasti Bulai

  Kepingan prasasti... Entah ke mana rimba pasangannya.



Alih-aksara:

Alih-aksara Prasasti Sapu Angin

Prasasti yang benar-benar dekoratif! Terdapat ornamen-ornamen bunga, cecak, dan lambang (kerajaan?). Di lambang ini terdapat ukiran sangka (terompet kerang), bulan sabit, kelopak bunga, dan hmmm...sisanya masih belum bisa dikenali. Prasasti ini terbuat dari batu granit. Di temukan di desa Sapu Angin, desa Geger, Kalangbret, Tulungagung, Jawa Timur. Berbahasa Jawa kuno dan aksara Kediri kuadrat (dari sini).

Aksara Kawi di Candi Plaosan Lor (4)

Postingan ini terwujud setelah ada permintaan dari pian Anang. Ada beberapa ukiran yang masih tercecer untuk dialih-aksarakan :p. Terimakasih Pian, sudah memberikan saran untuk memperkaya blog ini...
Ada enam buah ukiran aksara yang akan dialihaksarakan di postingan kali ini. Silakan menikmati!

Gambar 1. OD-18969
Alih-aksara:
anumoda saŋ maŋḍaṇḍar pu tahun


Gambar 2. OD-18976
Alih-aksara:
anumoda saŋ ḍāṅgul pu candra

Alih-aksara Prasasti Krtanagara di Candi Jago

      Candi Jago merupakan salah satu candi Buddhis di Nusantara. Berlokasi di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Candi ini mula-mula didirikan atas perintah raja Kṛtanagara untuk menghormati ayahandanya, raja Wiṣṇuwardhana, yang mangkat pada tahun 1268. Dan kemudian Adityawarman mendirikan candi tambahan dan menempatkan Arca Mañjuśrī didirikan pada masa Kerajaan Singhasari pada abad ke-13.
      Candi Jago merupakan candi satu-satunya di Jawa Timur yang peninggalannya berupa arca-berdiri masih tersisa dengan utuh. Salah satunya adalah arca perwujudan Kṛtanagara sebagai Amoghapaśa dengan bahan perunggu dan tinggi 22 cm. Amoghapaśa sendiri adalah seorang figur Buddhis yang disebut juga Amoghapaśa Lokeśvara; manifestasi bodhisattva Avalokiteśvara. Amoghapaśa dikenal pada awal abad ke-6, namun perannya sebagai manifestasi Avalokiteśvara mungkin baru dikenal belakangan setelah tulisan Sakyasribhadra (1127-1225). 
   
Gambar 1. Arca Amoghapaśa (OD-3517).

Sabtu, 06 Oktober 2012

Alih-aksara Prasasti Manjusri di Candi Jago

Arca Mañjuśrī sebagai perwujudan dari Wiṣṇuwardhana, ayah Kṛtanagara. Berangka tahun 1265 Saka.


Gambar 1. Arca Mañjuśrī.

Aksara Kawi Kuadrat di Gunung Panulisan

Bagi yang pernah merasakan dinginnya Kintamani, pasti tahu indahnya danau Batur yang bersanding dengan gunung Batur yang kokoh. Namun, apakah Anda tahu bahwa ada sebuah situs di dekat situ yang menyimpan banyak peninggalan purbakala? 


Gambar 1.
Arca Bhatari Mandul.
Sumber: 
Monumental Bali:
introduction to Balinese archaeology:
guide to the monuments
 
Di gunung berketinggian 1745 meter di atas permukaan laut - Gunung/ Bukit Panulisan - pura Tegeh Koripan berdiri diselimuti kabut tebal. Nama desa tempat berdirinya pura ini adalah Sukawana. Beberapa ilmuwan dan ahli purbakala telah mengunjungi situs yang ada di Gunung Panulisan sejak tahun 1885, diantaranya: Dr. J. Jacobs, Shcwartz, C. M. Pleyte, Nieuwenkamp, Goris, dan Stutterheim.

Salah satu peninggalan yang ada di Pura Tegeh Koripan adalah arca-berdiri Bhaṭārī Mandul. Bhaṭārī Mandul diperkirakan adalah seorang figur dewi gunung yang digambarkan sebagai seorang ratu/ putri. Arca ini terpecah menjadi tiga bagian. Di bagian belakang pecahan arca yang terbesar memuat satu baris ukiran aksara Kaḍiri/ Keḍiri Kuadrat yang terbaca: bhaṭārī mandul. Aksara bha keadaannya sudah aus, namun aksara lain
masih bisa  terbaca dengan baik. Belakangan, pecahan terkecil arca ini ditemukan oleh Stutterheim dan bertuliskan angka 999 (Saka) atau 1077 Masehi. 

Alih-aksara Prasasti Kapuhunan/ Pintang Mas



Prasasti Kapuhunan terdiri dari satu buah lempeng logam yang sebagian sudutnya sudah hilang karena keropos.

      Bagian belakang prasasti keadaannya sudah sangat aus membuat aksara sulit dibaca, sehingga hanya dilampirkan seadanya saja. Secara garis besar, prasasti ini bercerita tentang pembebasan tanah demi kepemilikan penuh bagi ramanta Kapuhunan oleh Dyaḥ Puṭu. 

Definisi Prasasti


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Prasasti adalah piagam atau dokumen yang ditulis pada bahan yang keras dan tahan lama. Penemuan prasasti pada sejumlah situs arkeologi, menandai akhir dari zaman prasejarah, yakni babakan dalam sejarah kuno Indonesia yang masyarakatnya belum mengenal tulisan, menuju zaman sejarah, dimana masyarakatnya sudah mengenal tulisan. Ilmu yang mempelajai tentang prasasti disebut Epigrafi.

Di antara berbagai sumber sejarah kuno Indonesia, seperti naskah dan berita asing, prasasti dianggap sumber terpenting karena mampu memberikan kronologis suatu peristiwa. Ada banyak hal yang membuat suatu prasasti sangat menguntungkan dunia penelitian masa lampau. Selain mengandung unsur penanggalan, prasasti juga mengungkap sejumlah nama dan alasan mengapa prasasti tersebut dikeluarkan.
Dalam pengertian modern di Indonesia, prasasti sering dikaitkan dengan tulisan di batu nisan atau di gedung, terutama pada saat peletakan batu pertama atau peresmian suatu proyek pembangunan. Dalam berita-berita media massa, misalnya, kita sering mendengar presiden, wakil presiden, menteri, atau kepala daerah meresmikan gedung A, gedung B, dan seterusnya dengan pengguntingan pita dan penandatanganan prasasti. Dengan demikian istilah prasasti tetap lestari hingga sekarang.


Definisi Aksara Kawi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Aksara Kawi atau Aksara Jawa Kuno merupakan bentuk aksara yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Jawa Kuno atau Bahasa Kawi dan berkembang di Nusantara pada abad VIII – XVI.
Aksara Jawa Kuno berasal dari Aksara Pallawa yang mengalami penyederhanaan bentuk huruf pada sekira abad VIII. Aksara Pallawa itu sendiri merupakan turunan Aksara Brahmi dan berasal dari daerah India bagian selatan. Aksara Pallawa menjadi induk semua aksara daerah di Asia Tenggara (e.g. Aksara Thai, Aksara Batak, Aksara Burma).



Asal-usul
Perbedaan terpenting antara Aksara Pallawa dengan Aksara Jawa Kuno antara lain adalah :

  • Aksara Jawa Kuno memiliki vokal e pepet dan vokal e pepet panjang, sedangkan Aksara Pallawa tidak memiliki vokal e pepet atau vokal e pepet panjang.
  • Aksara Jawa Kuno cukup sering menggunakan tanda virama untuk menghilangkan vokal pada huruf konsonan, sedangkan Aksara Pallawa biasanya hanya menggunakan virama di akhir kalimat atau di akhir bait.

Revisi Tabel Aksara Kawi Awal

TULISAN INI SECARA PERMANEN DIALIHKAN KE TAUTAN BERIKUT: http://tikusprasasti.blogspot.com/2014/10/tabel-aksara-kawi-standar.html

Alih-aksara Prasasti Kandangan



Alih-aksara:
1. //0// swasti śaka warśātīta 828 bhadrawa
2. da māsa ti(thi/ṭhi) pañcamī kŗṣņapakṣa was wa

Alih-aksara Prasasti Tugu OD-740

Lumayan, ngisi lagi walaupun sambil nahan kantuk...

Sumber Gambar: socrates.leidenuniv.nl, OD-740

      Prasasti yang berbentuk tugu ini belum diketahui namanya. Asalnya dari Candirenggo, Singasari, Malang. Di dalamnya ada kata 'damalung', sama dengan nama lain dari Prasasti Ngadoman, yang juga nama lain dari Gunung Merbabu. Ada dua baris aksara dan 40 buah karakter(?) (termasuk tanda baca awal, aksara, dan ligatur).

Alih-aksara Prasasti Pura Sibi I

Sumber Gambar: socrates.leidenuniv.nl, OD-9335


Prasasti Pura Sibi I yang ditemukan di desa Kesihan, Bali.
Prasasti ini adalah bagian belakang arca Bhagawan Agastya.
Prasasti ini memiliki tiga baris penulisan aksara. Aksara-aksara masih jelas dibaca dengan keadaannya yang cukup baik dan bertipe kuadrat. 

Alih-aksara:

Alih-aksara Prasasti Pura Sibi III

Sumber Gambar: socrates.leidenuniv.nl, OD-9337

Prasasti Pura Sibi III
Kata-kata di dalam prasasti banyak yang mirip dengan prasasti Pura Sibi I. Prasasti berbahan batu ini bertuliskan aksara penampakannya berbeda dengan prasasti Pura Sibi pertama; prasasti ini bertuliskan aksara bali kuna bukan kuadrat, yang bisa disebut tipe stilus. Prasasti ini terdiri atas tiga baris aksara yang masih bisa dibaca walaupun banyak "cakaran-cakaran" eksternal.

Alih-aksara:

Alih-aksara Ukiran Belakang Arca dari Kesihan

Sumber Gambar: socrates.leidenuniv.nl, OD-9336

Alih-aksara:
// kakinamiḥ nama kṛtaka oṁ //



Alih-aksara Prasasti Gunung Panulisan III

Prasasti Gunung Panulisan III,
memiliki empat baris aksara Bali kuna.


Alih-aksara:
1. iŋ ṣaka 996
2. bulan jeṣṭa su
3. kla trayodasi
4. pasar wijaya maṅgala

Referensi:

Damais Louis-Charles. II. Etudes d'épigraphie indonésienne : IV. Discussion de la date des inscriptions. In: Bulletin de l'Ecole française d'Extrême-Orient. Tome 47 N°1, 1955. pp. 231.

socrates.leidenuniv.nl, OD-8732

Alih-aksara Prasasti Gunung Panulisan I


Alih-aksara:
1. śaka 933 wulan posa (s)ukla(pra)t(i)
2. (pā)da ṛggas pasar wijaya maṅgala ta(tkā)la
3. sira mpu bga anataḥ //

Referensi:
Damais Louis-Charles. II. Etudes d'épigraphie indonésienne : IV. Discussion de la date des inscriptions. In: Bulletin de l'Ecole française d'Extrême-Orient. Tome 47 N°1, 1955. pp. 229.

socrates.leidenuniv.nl, OD-8730

Alih-aksara Prasasti Poh Dulur Lempeng 1a

OD-2513

Gambar prasasti Poh Dulur bernomer inventaris OD-2153
dari Universitas Leiden.

Prasasti Poh Dulur merupakan prasasti tamra berukuran 36,5 x 19 cm dengan tebal 0,21 cm. Bagian depan ini terdiri atas sebelas baris aksara yang susah dibaca (ada yang bilang kacau bahkan, hehe).
Isi prasasti adalah mengenai pemberian hadiah kepada raja Rake Limus Dewīndra/ Dewendra. Prasasti ini tinulad, yaitu prasasti yang ditulis ulang sebagai upaya untuk dokumentasi dan publikasi. 


Alih-aksara:

Alih-aksara Prasasti Poh Dulur Lempeng 1b

OD-2154

Sisi kedua lempeng prasasti Poh Dulur bernomer inventaris OD-2154
dari Universitas Leiden.. 

Lihat juga postingan sebelumnya (Alih-aksara Prasasti Poh Dulur 1a).
Alih-aksara:


  1. pa (_ _)rat rāmanta i poḥ dulur winkas i poḥ dulur pu _ _ _ _
  2. (_)ma-ma-ra-tā pu gandriŋ[?] ' sapa sikut pu bhojā ikana[ŋ] pa(ṣa/ma)ya buathaji i saŋ pamgat tannilua rāmanta

Alih-aksara Prasasti OD-1516


Pada baris pertama terdapat petunjuk 
angka tahun (candrasengkala); 1125 Śaka.
(Sumber Gambar: socrates.leidenuniv.nl, OD-1516
)

Alih-aksara:

Jumat, 05 Oktober 2012

Kadiri Kuadrat Lagi; Alih-aksara Prasasti Karang Rêja

Prasasti Karang Rêja

(Sumber Gambar: socrates.leidenuniv.nl, OD-11002)


 Alih-aksara:

1. i śa(ka) 1056
2. nugraha rahyaŋ ta sa(ñjaya)

Alih-aksara Prasasti Ra Tawun

Prasasti Ra Tawun



Alih-aksara:
  1. ||0|| siddhirastu || swasti śaka warṣātīta 803 śrāwaṇa māsa ' caturdaśi śukla ' tu ' wa ' śu ' wāra ' tatkāla rakryan apatiḥ i wka pu catura ' manu
  2. suk tgal i ra tawun ' dadyanya sawaḥ tampaḥ 2 rewaŋnya sinusuk tgal pahalalaṅan i kwak dadya sawaḥ tampaḥ 2 rewaŋnya si suk

Alih-aksara Prasasti Huwung

  Prasasti Huwung


Alih-aksara:
1. saṁ watu walai wadua i sama kaki kon
2. sa--ga--pakunur bumi hasakna rāmanta
3. --pada wadwanya kotta-i --wga kahana--|| nak wanu
4. a ri hawuṅ rama nni prait
5. sambaḥ anāk ma-u-u
6. k ṣema huwuṅ 744
7. pamêggat nīti
8. wahuta tarahan
9. paḍaṅ sayut
10. rāma paliñjwan hawaṅ
11. winakas amwil


Referensi:
  1. Damais Louis-Charles. II. Etudes d'épigraphie indonésienne : IV. Discussion de la date des inscriptions. In: Bulletin de l'Ecole française d'Extrême-Orient. Tome 47 N°1, 1955. pp. 240-241.
  2. socrates.leidenuniv.nl, P-024086


Ragam Aksara Kawi Tipe Majapahit (2)

Lihat tulisan sebelumnya di sini.

Gambar 1. Tabel aksara tipe Majapahit (1).



Gambar 2. Tabel aksara tipe Majapahit (2).

Alih-aksara Prasasti Sukamêrta 1218 Saka

(Sumber Gambar: socrates.leidenuniv.nl, OD-14330)

Alih-aksara:


  1. ||0|| swasti śaka warṣātīta ' 1218 ' karttika māsa ' tīthi ' dwitīya śuklapakṣa ' tuṁ ' ka ' ca ' wā
  2. ra ' kuniṅan  ' dakṣiṇa sthagrahacāra ' adrā nakṣatra ' mitra dewatā ' baruṇa maṇdala ' atigaṇḍa

Alih-aksara Prasasti Pakis Wetan 1188 Saka

(Sumber Gambar: socrates.leidenuniv.nl, OD-2155)
Alih-aksara:
  1. ||0|| oṁ namaśśiwāya ||0|| swasti śaka warṣatīta ' 1188 ' māgha māsa ' tīthi ' trayodaśi śu
  2. klapakṣa ' wā ' wa ' aŋ ' wāra ' mahatal ' dakṣiṇa sthagrahacāra ' puṣya nakṣatra ' jīwa dewatā ' a

Alih-aksara Prasasti Pamintihan 1395 Saka

(Sumber Gambar: socrates.leidenuniv.nl, OD-6376)

Alih-aksara:
1. ||0|| awighnamastu ||0|| swasti śaka warṣatīta ' 1395 ' waiśaka masa ' diḍhi (tithi) ' tṛtiyākṛṣṇapakṣa ' 
2. ma ' ma ' śu ' laṅkir ' uttarasthagrahacāra ' mūla nakṣatra ' nairitī dewatā ' waruṇa maṇḍala ' śubha yoga '

Ragam Aksara Kawi Tipe Majapahit (1)

Aksara Majapahit (sekira antara 1250 – 1450 M) : Contohnya terdapat pada prasasti-prasasti dari zaman Kerajaan Majapahit; misalnya Prasasti Kudadu dari Mojokerto, Prasasti Adan-adan dari Bojonegoro, dan Prasasti Singhasari dari Malang. Aksara ini merupakan Aksara Kawi yang tiap hurufnya ditulis dengan banyak hiasan sehingga kadang kala sulit dikenali / sulit dibaca. Disebut Aksara Majapahit karena variasi ini banyak dijumpai dari masa Kerajaan Majapahit. 


Tak kopas dari:

http://id.wikipedia.org/wiki/Aksara_Nusantara


+++

Mulai sekarang, saya akan mem-posting tabel rekaan aksara tipe Majapahit yang banyak/ variatif. Ligatur-ligatur ini saya dapatkan dari gambar prasasti anangpaser.wordpress.com, koleksi Perpustakaan Leiden, dan hasil browsingan. Mungkin tabel yang saya berikan masih belum mewakili ragam aksara majapahit yang ada, namun saya berharap kiriman ini bisa bermanfaat bagi semuanya.
Seperti biasa, aksara-aksara yang tak lazim digunakan dalam penulisan bahasa Nusantara tetap ada, karena mau tidak mau harus ada standarisasi aksara Kawi. Saya melihat bahwa hal ini perlu karena aksara Kawi adalah turunan Pallawa yang memang bisa digunakan untuk alih-aksara Sansekerta.  

Gambar 1. Tabel salah satu ragam aksara Kawi tipe Majapahit (1).

Alih-aksara Prasasti Poleng II (Humanding) (1)

Prasasti Humanding atau prasasti Polengan II terdiri dari tiga lempeng tembaga. Ditemukan di Kelurahan Krapyak, Kec. Kenaren, Kab. Kalasan, Yogyakarta. Beberapa ahli epigrafi telah membahas prasasti ini, diantaranya: Damais, Stutterheim, Sarkar, dan Boechari. Prasasti ini berisikan penganugrahan tanah di Humanding oleh Rakai Kayuwangi untuk dijadikan tanah perdikan mendirikan bangunan suci di Gunung Hyang. Berikut saya lampirkan Gambar dan alih-aksara prasastinya.


Gambar 1. Foto prasasti 
Sumber: Perpustakaan Leiden (OD-13692)



Gambar 2. Repro prasasti.


Alih-aksara:

Aksara Kawi di Candi Plaosan Lor (3)


Gambar 1. OD-18986
alih-aksara:
(anumo)da saŋ dalinan pu bala



Gambar 2. OD-18987
alih-aksara:
anumoda saŋ ḍa tirip pu kaisawa


Aksara Kawi di Candi Plaosan Lor (2)


Gambar 1. OD-18968
alih-aksara:
anumoda saŋ watu humalaŋ pu tguḥ



Gambar 2. OD-18971
alih-aksara:
anumoda saŋ sirikan pu sūryya

Alih-aksara Prasasti Tuhañaru 1245 Saka

(Sumber Gambar: socrates.leidenuniv.nl, OD-1517)

Alih-aksara:

Alih-aksara Prasasti dari Dieng

Prasasti di bawah ini adalah bagian belakang dari sebuah prasasti yang ditemukan di Dieng dan difoto pada tahun 1864 oleh Isidore van Kingsbergen. Bagian belakang prasasti ini hanya berisikan empat baris aksara Kawi awal. Foto bagian depan prasasti yang ada di perpustakaan Leiden tidak bisa dialih-aksarakan karena ligaturnya tak tampak jelas. 

(Perhatian: redaksi alih-aksara di bawah ini masih belum reliabel)



Alih-aksara:

  1. hana sīma i śrī maṅgala watag hiraŋnā sawaḥ lamwi thata hana
  2. sīma i wuka watu watakwan hilā sawaḥ tampaḥ 3 hana sīma
  3. i panuliṅan watak-piwahan sawaḥ tampaḥ 1
  4. wlaḥ 1


Prasasti Kalasan 700 Saka



Sumber Gambar: socrates.leidenuniv.nl, OD-7466
Bangsa ini telah membuka diri bagi dunia luar jika dilihat dari sistem penulisannya yang cukup bervariasi, termasuk di dalamnya  Siddhamatṛka. Sebagai bukti, prasasti ini diukir dengan menggunakan aksara kuna yang penampakannya sangat jarang di prasasti-prasasti Nusantara, yaitu aksara Siddham.  Aksara Siddhamatṛka atau Siddhaṃ (Dewanagari: सिद्धं; IAST: siddhaṃ; dari bahasa Sanskerta yang berarti "berhasil" atau "sempurna") — adalah nama sebuah aksara India Utara yang dipakai untuk menulis bahasa Sanskerta. Aksara ini diturunkan dari aksara Brahmi melalui aksara Gupta, yang juga menurunkan aksara Dewanagari dan aksara-aksara Asia lainnya seperti aksara Tibet.