Selasa, 09 Oktober 2012

Alih-aksara Prasasti Krtanagara di Candi Jago

      Candi Jago merupakan salah satu candi Buddhis di Nusantara. Berlokasi di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Candi ini mula-mula didirikan atas perintah raja Kṛtanagara untuk menghormati ayahandanya, raja Wiṣṇuwardhana, yang mangkat pada tahun 1268. Dan kemudian Adityawarman mendirikan candi tambahan dan menempatkan Arca Mañjuśrī didirikan pada masa Kerajaan Singhasari pada abad ke-13.
      Candi Jago merupakan candi satu-satunya di Jawa Timur yang peninggalannya berupa arca-berdiri masih tersisa dengan utuh. Salah satunya adalah arca perwujudan Kṛtanagara sebagai Amoghapaśa dengan bahan perunggu dan tinggi 22 cm. Amoghapaśa sendiri adalah seorang figur Buddhis yang disebut juga Amoghapaśa Lokeśvara; manifestasi bodhisattva Avalokiteśvara. Amoghapaśa dikenal pada awal abad ke-6, namun perannya sebagai manifestasi Avalokiteśvara mungkin baru dikenal belakangan setelah tulisan Sakyasribhadra (1127-1225). 
   
Gambar 1. Arca Amoghapaśa (OD-3517).




Gambar 2. Ukiran prasasti di belakang arca perunggu Amoghapaśa (OD-3518).

      Sepengamatan saya, prasasti ini tidak memiliki angka tahun; baik tertulis langsung dengan angka maupun candrasengkala. Aksara Nāgarī yang digunakan berasal dari India bagian timur. Ada yang beranggapan bahwa aksara-aksara ini berasal dari daerah Bengal. Prasasti ini terdiri dari 11 baris tidak termasuk dengan simbol menyerupai huruf s di bagian atas prasasti. Aksara tipe ini sangat mirip dengan aksara kuna Nepal; Newari/ Prachalit. Aksara yang aus dan kurang jelas terlihat di gambar membuat saya sulit mengalihaksarakan prasasti ini, apalagi aksara ini memang aksara langka di Nusantara. Hal yang paling menyulitkan adalah bentuk konjungsi dari aksara. Konjungsi dan pemakaian diakritik ini tidak bisa diterka begitu saja karena memang kluster aksara yang membentuk suatu iregularitas. Selain itu kluster yang dibentuk baik gabungan antara konsonan-vokal maupun konsonan-konsonan sangat mirip/ susah dibedakan. Contoh: pada kluster hya, pemakaian diakritik -u mirip dengan bentuk non-initial ta (kasus nu yang mirip dengan tta)Aksara yang berkembang di daerah India timur ini biasa dipakai menulis kitab Buddhis pada zaman itu disamping aksara Lantsa/ Rañjanā. Contoh kitab yang menggunakan aksara ini adalah Guhyasamaja Tantra
Agama Buddha yang pada masa itu terdesak oleh Islam menyingkir ke daerah Burma, Nepal, Tibet, Kamboja, dan Nusantara.  Nampaknya aksara ini bisa masuk ke Nusantara karena  Kṛtanagara yang notabene seorang penganut Buddha Tantra mendapat pengaruh dari ajaran Tantrisme, entah langsung dari India atau negara yang dijadikan pelarian tadi. 

Alih-aksara:
Devanagari
१। ये धर्मा हेतु प्रभवा हेतुन्तेषन्त
२। थागतो ह्यवदत् तेषाञ्च यो नि
३। रोधः एवम् वादी महाश्रमणः।
४। देय(धर्मोयं?) प्रवर महा(यान/यने)या=
५। यिनः परमरत्नोपासकः श्री म=
६। हाराजाधिराजः श्री कृतनगर वि=
७। क्रम (ज्ञ?)नवज्रोत्तुंगदेव महा=
८। राजः यदत्र पुण्यं तद्भवत्वाचा=
९। र्योपाध्याय मातापितृपूर्व्वंगमं
१०। कृत्वा सकलसत्वरशेरनुत्त=
११। रज्ञानफलावाप्तय(?)ति॥

Latin
1. ye dharmā hetu prabhavā hetunteṣānta
2. thāgato hyavadat teṣāñca yo ni
3. rodhaḥ evamvādī mahāśramaṇaḥ |
4. deyadha(rmoyaṁ?) pravara mahā(yane/yāna)yā
5. yinaḥ paramaratnopāsakaḥ śrī ma
6. hārājādhirājaḥ śrī kṛtanagara vi
7. krama (jña?)navajrottuṁgadeva mahā
8. rājaḥ yadatra puṇyan tad bhavatvācā
9. ryopādhyāya mātāpitṛpūrvvaṁgamaṁ
10. kṛtvā sakalasatvaraśeranutta
11. rajñānaphalāvāptaya (?)ti ||


Baris satu sampai tiga merupakan śloka Buddhis umum yang sering dijumpai dalam prasasti-prasasti Buddhis berbahasa Sansekerta. Ada yang menganggap ayat ini merupakan rangkuman dari pengajaran Pratitya Samutpada/ Paticca Samuppada atau Buddhist creed. Ayat-ayat dari awal vinaya "ye dharmā hetuprabhavā" adalah kata-kata yang diucapkan oleh Arahat Assaji (Sansekerta: Aśvajit) untuk Upatissa, kemudian menjadi dikenal sebagai Sariputta (Sansekerta: Sariputra). Sariputta kemudian meneruskan kata-kata ini kepada Kolita. Sariputta bersama dengan Kolita teman masa kecilnya, kemudian disebut Moggallāna (Sansekerta: Maudgalyayana), adalah dua siswa utama Sang Buddha Gotama.
Ayat versi bahasa Paḷi terdapat pada Vinaya Piṭaka, Mahāvaggapāḷi, Mahākhandhako. Bunyinya sebagai berikut:

ये धम्मा हेतुप्पभवा, तेसं हेतुं तथागतो आह।
तेसञ्‍च यो निरोधो, एवंवादी महासम

Ye dhammā hetuppabhavā, tesaṃ hetuṃ tathāgato āha;
Tesañca yo nirodho, evaṃvādī mahāsamaṇo

Dari hal-hal yang timbul dari penyebab,
Tathāgata telah mengatakan penyebabnya,
Dan juga apa penghentian mereka.
Ini adalah doktrin Pertapa Agung


‗‗‗‗‗‗‗

lihat tulisan berikutnya yang berkaitan dengan ini di http://tikusprasasti.blogspot.com/2014/07/formula-sansekerta-di-punggung-arca.html

Referensi:
http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Jago
http://nalandatranslation.org/offerings/choosing-the-right-word/dependent-arising-tendrel/
http://www.visiblemantra.org/dharma-hetuprabhava.html
socrates.leidenuniv.nl/
tipitaka.org/

Ann R. Kinney, Marijke J. Klokke, Lydia Kieven. 2003. Worshiping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java. Hawaii: University of Hawaii Press.
Chatterjee, Bijan Raj; Chakravarti, Niranjan Prasad. 1933. India and Java, Part II: Inscriptions (2nd ed.) . Calcutta : Prabasi Press.
J. G. de Casparis. 1975. Indonesian Palaeography: A History of Writing in Indonesia from the Beginnings to C. A.D. 1500, Volume 4, Masalah 1. Leiden: BRILL.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar