Senin, 21 Januari 2013

Alih-aksara Prasasti Kubu Raja/Kubur Raja

     Sedikit menggeser lirikan kita ke bagian barat Indonesia, yaitu Pulau Sumatera. Peta kekuasaan Nusantara berpusat di pulau ini pada abad 4 Masehi, khususnya bagian selatan yang dikuasai oleh dinasti Sriwijaya yang sejarahnya masih samar-samar. Sekitar abad ke-13 Masehi, seorang putra berdarah Melayu – Adityawarman – kembali membangun pemerintahan di bumi ngarai; Minangkabau. Di daerah ini terdapat beberapa prasasti batu yang menginformasikan bahwa putra Dara Petak ini pernah berkuasa, diantaranya Prasasti Batu Beragung/Beragong, Prasasti Amoghapasa, Biaro Sitopayan, Prasasti Surawasa, dan Prasasti Nisan Kubu Raja. 
     Prasasti Kubu Raja ditemukan di Lima Kaum, Sumatera Barat. Daerah ini diyakini sebagai daerah pertahanan karena dikelilingi oleh ngarai. Hal ini yang menjadi dasar daerah ini disebut Kubu Raja. Kern, dibuat keliru dengan toponim kubur-rajo dan kubu rajo (Kozok & Reijn, 2010). Raja-raja Hindu dan Buddhis biasanya diperabukan, bukan dimakamkan. Mungkin hal ini yang menjadi pertimbangan Bosch untuk berkesimpulan menamakan prasasti ini sebagai "Kubu Rajo". Prasasti ini diperkirakan berasal dari tahun 1300 Masehi. Prasasti ini menggunakan aksara Melayu Kuna, yang banyak ditemukan pada prasasti yang dikeluarkan Adityawarman. Bahasa yang digunakan adalah “Sansekerta liar”, yaitu Sansekerta yang tidak sesuai dengan kaidah tata bahasa, ditambah lagi banyak kesalahan penulisan aksara. Hal ini membuat isi dari prasasti tidak bisa diartikan sepenuhnya, namun hanya bisa diperkirakan dengan pencocokan di sana-sini. 
      Prasasti Kubur Raja adalah prasasti yang cukup banyak dibahas dan materinya cukup banyak bisa ditemui di dunia maya. Ulasan di bawah ini adalah salah satunya, saya dapat dari terjemahan karya H. Kern oleh Uli Kozok & Erik van Reijn.

Gambar 1. Prasasti yang masih tertancap, terbalik.
Jadi saya memutar fotonya. :v

Gambar 2. Ukiran aksara pada prasasti
yang sudah diperjelas.


Alih-aksara:

1. Oṃ māṃla virāgara1
2. Ādvayavarmma
3. mputra Kaṇaka 2
4. medinīndra — ǀ o ǀ
5. śukṛtā ā vila3
6. bdhakusalaprasa —
7. ǁ dhru ǁ maitrī karu
8. ṇā ā mudīta u 4
9. pekṣā || ā ||5 yācakka
10. jaṇakalpatarurupa
11. mmadāna ǁ ā ǁ Ādi
12. tyavarmma mbhūpa kulisa
13. dharavaṅśa ǀ o ǀ pra
14. tīkṣa avatāra
15. śrīlokeśvara
16. deva ǁ mai —6

Catatan:


  1. ra tidak begitu jelas terlihat.
  2. diakritik/sandhangan e untuk aksara ma di baris bawahnya terletak di sini.
  3. ukirannya sudah aus.
  4. diakritik/sandhangan e untuk aksara ma di baris bawahnya terletak di sini.
  5. seharusnya āḥ
  6. terjemahan dari prasasti ini terdapat pada Notulen Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen XVIII (1880), p. 125–126 oleh Prof. Kern pada awal 1880 (catatan kaki ditambahkan pada tahun 1917)

Referensi:

Kozok, Uli, & Eric van Reijn. (2010) “Adityawarman: Three Incriptions of the Sumatran King of All Supreme Kings.” Indonesia and the Malay World 38, hal. 135-158.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar