Selasa, 14 Mei 2013

Kronogram dari Mojokerto


      Kronogram, atau lebih dikenal dengan  sengkalan di Nusantara, adalah sebuah metode penggunaan kata-kata menjadi sebuah kalimat untuk menggantikan angka tahun. Sengkalan sendiri terbagi menjadi dua, yaitu suryasengkala dan candrasengkala. Dari asal katanya, suryasengkala disusun dari dua kata, surya berarti matahari dan sengkala berarti tahun. Jadi bisa dikatakan bahwa suryasengkala adalah penulisan tahun berdasarkan perputaran matahari (tahun matahari/solar). Sedangkan candrasengkala sendiri berarti penulisan tahun berdasarkan perputaran bulan (tahun bulan/lunar) Kata-kata yang ada di sengkalan mengandung makna tersendiri yang mewakili angka tertentu. Contoh, kata sirna yang berarti hilang; pergi, mewakili angka 0 (nol). Uniknya lagi, angka dari candrasengkala tidak dibaca sesuai dengan urutan katanya (kiri ke kanan), tapi dibaca terbalik. Salah satu sengkalan yang terkenal adalah sirna (0) ilang (0) kertaning (4) bhumi (1) (1400 Saka), yang merupakan tanda dari kemunduran Majapahit. Berikut ini adalah salah satu contoh kronogram, walaupun yang tidak terkenal, tapi ini salah satu kronogram yang saya coba pecahkan sendiri. Hehe



Gambar 1. OD-1740.
     Gambar 1 adalah sebuah foto lempeng batu dari Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur dari tahun 1914 karya Leydie Melville H. Batu ini bertuliskan candrasengkala dengan aksara Kawi yang berbunyi "ṛṣi gaṇa dadi wwang". Jika diartikan dengan harfiah, kalimat ini berarti Gaṇeśa (berubah/menjelma) menjadi manusia. Menurut sumber dari Begawan Arianta, kata-kata tersebut bisa dibedah maknanya sebagai berikut. ṣi artinya orang suci/pendeta bermakna 7, gaṇa berarti gana – salah satu makhluk mitologis Hindu-Buddha – bermakna 6, dadi berarti menjadi bermakna 4, dan wwang berarti manusia yang bermakna 1. Jika dijadikan angka tahun, maka sengkalan ini menjadi 1467 Śaka (1533 Masehi). Namun, metadata yang menyertai OD-1740 mengatakan kronogram ini adalah angka tahun 1167. Saya menyertakan gambar digitalisasi aksara Kawi salinan dari prasasti tersebut (gambar 1) untuk memperjelas bentuknya bagi pembaca. Tetapi versi digital ini tidak mewakili karakteristik aksara Kawi masa tertentu.


Gambar 2. Versi digital aksara Kawi yang ada di OD-1740.

Sumber Gambar
socrates.leidenuniv.nl



Tidak ada komentar:

Posting Komentar