Senin, 16 September 2013

Alih-aksara Prasasti Bata dari Candi Muara Takus

      Terima kasih atas hukum ketertarikan, sepertinya saya punya jodoh dengan gambar ini. Sudah lama saya menemukannya, namun petunjuk yang ada nampaknya belum cukup untuk memecahkan alihaksaranya. Beberapa saat yang lalu, +Bhagya Ng pernah mengirimi saya gambar ini dan kami coba-coba mengalihaksarakannya. Kami punya alihaksara masing-masing, dan ternyata di antara kami nggak ada yang bener alihkasaranya waktu itu. Haha...
Baru-baru ini, pian Anang mempostkan gambar ini di blognya. Beberapa kali ketemu gambar ini kok sepertinya dia terus menggoda untuk bisa dibaca.
Gambar Prasasti Bata dari Candi Muara Takus
(sumber: socrates.leidenuniv.nl, kern-gd-13-1321)
      Setelah mencari-cari di beberapa sumber, saya belum menemukan nama prasasti ini. Menurut Suleiman (Susetyo, 2010, p. 207), aksara prasasti ini mirip dengan aksara pada prasasti Aek Sangkilon dari Padang Lawas, Sumatera Utara yang secara relatif berasal dari abad ke-14 Masehi. Berbeda dengan Suleiman, Schnitger (Susetyo, 2010, p. 208) berpendapat bahwa aksara ini berasal dari abad ke-12 Masehi. Jika dilihat, penggunaan aksara Nagari tipe ini memang pernah digunakan selama masa pemerintahan Krtanagara pada abad ke-12 di Singasari. Aksaranyapun mirip dengan prasasti di punggung patung Amoghapasa di Candi Jago.
      Prasasti ini ditemukan di Candi Bungsu di kompleks percandian Muara Takus, Riau. Prasasti ini berbentuk kubus, serta permukaannya dipahat 9 bijamantra yang mewakili pantheon Buddhisme. Di keempat sisinya terpahat juga ukiran wiswawajra. Bentuk seperti ini biasa disebut dengan bīja-maṇḍala; mandala yang hanya diwujudkan dalam aksara-aksara (bījākṣara). Mengenai alihaksaranya, prasasti ini berbunyi:

maṁ
hrīṁ
paṁ
traṁ
hūṁ
khaṁ
laṁ
oṁ
taṁ
Mandala dalam agama Buddha merupakan konfigurasi kosmis yang menggambarkan ploting kedudukan dewa-dewa/makhluk-makhluk surgawi secara hierarkis. Mandala (dan yantra) sering dihubungkan dengan pembangunan suatu bangunan suci.
Prasasti ini tampaknya berperan sebagai deposit (pendeman dalam bahasa Jawa, pedagingan dalam bahasa Bali) yang digunakan untuk menghidupi atau menjiwai suatu bangunan suci. Deposit ini biasanya ditanam di bagian bawah bangunan suci. Namun tak jarang ditemukan di luar bangunan pula. Deposit biasanya berbentuk batu mulya, emas ataupun perak berbentuk pipih (Soekmono, 1995, p. 116).

      Di bagian selatan Candi Bungsu, terdapat sebuah bangunan dengan sembilan stupa. Sebuah stupa sebagai pusat yang dikelilingi oleh delapan stupa lainnya.
Gambar 2. Tampak atas bangunan sebelah selatan
Candi Bungsu


Jika dikaitkan dengan perannya sebagai proyeksi dari suatu bangunan suci, apakah mungkin prasasti ini digunakan untuk menghidupi bangunan di sebelah selatan candi Bungsu?
Mandala apa yang dipakai menjadi model di prasasti ini? Saya belum menemukan persisnya. Namun sepertinya formasi ini mendekati Akṣobhya Maṇḍala. Akṣobhya Maṇḍala merupakan sebuah mandala dengan Buddha Akṣobhya sebagai pusatnya, dikelilingi oleh empat Dhyani Buddha beserta śaktinya masing-masing. Kedudukan makhluk-makhluk agung ini juga mewakili arah-arah tertentu di mata angin. Buddha Akṣobhya berada di tengah-tengah, Buddha Vairocana berada di timur, Buddha Ratnasambhava di selatan, Buddha Amitābha di sebelah barat, dan Buddha Amoghasiddhi di sebelah utara. Śaktinya menempati empat sub-mata angin, yaitu: Tārā di sebelah timur laut, Locanā di tenggara, Māmakī di barat daya, dan Pāḍarā di barat laut.

Utara



paṁ
khaṁ
taṁ
Barat
hrīṁ
hūṁ
oṁ
Timur

maṁ
traṁ
laṁ


Selatan

Bibliography


Bhattacharyya, B. (1949). Nispannayogavali . Baroda: Oriental Institute.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kampar. (2011). Jejak Sejarah Candi Muara Takus. Riau: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kampar.
Soekmono. (1995). Tha Javanese candi: function and meaning. Leiden: E. J. Brill.
Soeroso. (1998/1999). Jantra dan Mandala dalam Arsitektur Candi. Berkala Arkeologi Sangkhakala No. I/1998-1999. Medan: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional – Balai Arkeologi Medan.
Susetyo, S. (2010). KEPURBAKALAAN PADANG LAWAS, SUMATERA UTARA : TINJAUAN GAYA SENI BANGUN, SENI ARCA DAN LATAR KEAGAMAAN. Depok: Universitas Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar