Kamis, 31 Januari 2013

Alih-aksara Prasasti Kwak I (2)



Alih-aksara

7. paṅgil hyaṁ pūttarāsaṅga / dalinan pu acuṁ / maṁhuri pu kuti / saṁkur pu wawa / tawan pu rañjan / tirip pu agrapiṇḍa / wadihati pu
8. manū / makudur pu mnaṁ / kapua inaṁsĕan mas mā 8 wḍihan pirā yu 1 sowaṁ sowaṁ // tuhan ri wadihati 2 miramiraḥ maṁra
9. ṅkappi halaran tuhān i makudur waṅun sugiḥ / kapua wineḥ mas mā 4 wḍihan ragi (raṅga?) yu 1 sowaṁ sowaṁ // waṁ huta hyaṁ lu
10.maka manusuk saṁ halaran manusuk anak wanua i tāl waraṇa watak hamĕas / i makudur saṁ rawugwug anak wanua i hinpu
11. watak piar wineḥ mas mā 4 wḍihan ragi yu 1 sowaṁ sowaṁ, patiḥ airbuwuṁ ri kaṁ kāla si haris rama ni ṇita, patiḥ kalya

Rabu, 30 Januari 2013

Alih-aksara Prasasti Kwak I (1)

Prasasti Kwak I adalah prasasti tamra/logam yang berukuran 35,7 x 32,8 cm. Prasasti ini merupakan salah satu dari 5 buah rangkaian prasasti Kwak yang menghimpun banyak informasi. Prasasti ini memuat pemberian tanah sima bagi masyarakat wanua Kwak (diwakili oleh  pemimpin wanua Kwak, Raké Wka pu Catura) oleh raja Mataram yang memerintah pada waktu itu, Śrī Mahārāja Rakai Kayuwangi. Informasi penting lainnya adalah rekaman perkembangan kota Kediri saat ini yang dulunya adalah kerajaan Kediri/Kaḍiri. Di tengah kontroversi penetapan tanggal hari jadi Kediri oleh para ahli arkeologi, prasasti ini berhasil menjadi dasar hukum tanggal ulang tahun kota Kediri, yaitu 27 Juli. 
Prasasti Kwak I terdiri dari 17 baris aksara Kawi awal, yang masih lumayan bisa dibaca. Alihaksara prasasti ini dibagi menjadi 3 bagian. Pada bagian pertama ini, akan dilampirkan baris 1-6.


Alih-aksara:

  1. // swasti śaka warṣātīta 801 śrawaṇa māsa tithi pañcami śuklapakṣa, wurukuṁ, umanis, soma, wāra tatkāla ājña śrī mahā

Jumat, 25 Januari 2013

Prasasti Tugu Upit

Prasasti tugu adalah prasasti yang berbentuk tugu yang dipancangkan di permukaan tanah. Prasasti jenis ini punya dua bagian, yaitu bagian atas dan bawah. Bagian atas prasasti adalah bagian yang menyumbul di permukaan tanah yang berisikan akṣara. Bagian bawah prasasti adalah bagian yang tertanam ke tanah, dan bentuknya tidak sehalus bagian atas prasasti. Bagian atas prasasti tugu kebanyakan berbentuk mirip dengan lingga – simbol Śiwa – sedangkan bagian bawahnya berbentuk kubus.
Prasasti Upit, ditemukan oleh seorang petani di desa Sarawaden, Klaten, yang bernama Mitrowiratmo. Tinggi keseluruhannya adalah 85 cm, dengan bagian bawah 48 cm dan bagian atas 37 cm. Prasasti ini bertuliskan aksara Kawi awal, berbahasa Jawa Kuna, dan akṣaranya melingkari permukaan prasasti.
Nama tempat  yang disebutkan pada prasasti ini; upit/yupit, disebutkan pada beberapa prasasti pada masa kerajaan Medang. Berikut ini adalah tiga prasasti yang menyebutkan nama Upit:
  1. Th. 788 Śaka, seorang Rake Halaran meresmikan tanah bebas pajak di Upit.
  2. Th. 800 Śaka, pemasukan(?) bagi ladang sawah di Mulak digunakan untuk pemeliharaan prāsāda(tempat ibadah) di Upit.
  3. Th. 801 Śaka, mirip dengan di atas,  pemasukan(?) sawah di Kwak digunakan untuk pemeliharaan prāsāda di Upit.
Berikut ini adalah gambar dari prasasti beserta alih-aksaranya:

Senin, 21 Januari 2013

Alih-aksara Prasasti Kubu Raja/Kubur Raja


Sedikit menggeser lirikan kita ke bagian barat Indonesia, yaitu Pulau Sumatera. Peta kekuasaan Nusantara berpusat di pulau ini pada abad 4 Masehi, khususnya bagian selatan yang dikuasai oleh dinasti Sriwijaya yang sejarahnya masih samar-samar. Sekitar abad ke-13 Masehi, seorang putra berdarah Melayu – Adityawarman – kembali membangun pemerintahan di bumi ngarai; Minangkabau. Di daerah ini terdapat beberapa prasasti batu yang menginformasikan bahwa putra Dara Petak ini pernah berkuasa, diantaranya Prasasti Batu Beragung/Beragong, Prasasti Amoghapasa, Biaro Sitopayan, Prasasti Surawasa, dan Prasasti Nisan Kubu Raja. 

Minggu, 20 Januari 2013

Alih-aksara Prasasti OD-1508


OD-1508


1. //0// mūlaniṁ sawaḥ sīma i kwak tamaḥ 5 knā i saṁ makarma i prasāda i laṇḍa, marhyaṁ tampaḥ 2 muaṁ lañjānya, gawaya
2. nira dumawuttana dukut niṁ prasāda i ruhur , muaṁ tamwak , muaṁ mataga ikanaṁ ma sawaḥ iṁ sīma gumawaya  ikanaṁ pamahujaṅgān
3. kyan mahala, muaṁ pacaruan kyan mahala, muaṁ humarappa ikanaṁ biśuwa, muaṁ caru aṅkan parbwaṇi, sawala saṁ hyaṁ tampaḥ 1 
4. paknānya pabiśuwā muaṁ pacaruakan parbwaṇi lañjānya tamwaha ni bhukti saṁ paṅajyan i laṇḍa, sawaha saṁ dewata iṁ paca