Jumat, 25 Juli 2014

Alih-aksara Prasasti Kwak I (2)



Alih-aksara

7. paṅgil hyaŋ pūttarāsaṅga / dalinan pu acuŋ / maŋhuri pu kuti / saŋkur pu wawa / tawan pu rañjan / tirip pu agrapiṇḍa / wadihati pu

8. manū / makudur pu mnaŋ / kapua inaŋsĕan mas mā 8 wḍihan pirā yu 1 sowaŋ sowaŋ // tuhan ri wadihati 2 miramiraḥ maŋra
9. ṅkappi halaran tuhān i makudur waṅun sugiḥ / kapua wineḥ mas mā 4 wḍihan ragi (raṅga?) yu 1 sowaŋ sowaŋ // waŋ huta hyaŋ lu
10.maka manusuk saŋ halaran manusuk anak wanua i tāl waraṇa watak hamĕas / i makudur saŋ rawugwug anak wanua i hinpu
11. watak piar wineḥ mas mā 4 wḍihan ragi yu 1 sowaŋ sowaŋ, patiḥ airbuwuŋ ri kaŋ kāla si haris rama ni ṇita, patiḥ kalya

Senin, 21 Juli 2014

Formula Sansekerta di Punggung Arca Amoghapasa di Candi Jago

      Mirip sekali dengan apa yang terjadi dengan postingan prasasti Jragung. Rangkaian aksara-aksara nan rumit dengan sedikitnya pengetahuan dan sumber, lambat laun diberikan sedikit petunjuk. Begitu lama gambar ini sudah dicoba dialihaksarakan, namun lagi-lagi bertemu dengan kendala. Aksara yang dipakai dalam prasasti ini adalah aksara Nagari. Namun, entah Nagari jenis mana. Sejauh yang saya cari infonya di internet, Nagari punya banyak varian, jadi saya bingung, ini varian yang mana. Apakah termasuk Nepālākṣara, Bengala Kuno, atau Kutila. Saya harap pembaca yang punya info lebih bisa memberi info lebih :) 
      Prasasti beraksara Nagari dari Jajaghu ini punya titik terang baru (lihat tulisan sebelumnya mengenai ini di http://tikusprasasti.blogspot.com/2012/10/alih-aksara-prasasti-krtanagara-di.html). Selagi saya mencari-cari info mengenai jenis aksara dalam prasasti ini, saya coba jalan-jalan ke perpustakaan digital Cambridge yang khusus membidangi manuskrip Sansekerta (http://cudl.lib.cam.ac.uk/collections/sanskrit, perpustakaan digital ini benar-benar bisa diandalkan!). Ketika membaca informasi salah satu kolofon manuskrip, saya menemukan kemiripan beberapa baris teks dengan isi prasasti. Maka saya dalami pencarian di internet. 
      Voi la! Ternyata kalimat-kalimat pada prasasti ini merupakan formula, jadi pola-polanya bisa dilacak. Jika dilihat dari formulanya, teks prasasti bisa dibagi menjadi 2 bagian, yaitu: (1) formula pertama yang berisi ye-te dan (2) formula kedua yang menyatakan pemberi/pendonor “sesuatu”. Berikut penjelasannya.

Jumat, 18 Juli 2014

Aksara Vokal dari Zaman Raja Sri Suradhipa

Sumber gambar: Repositori Digital Perpustakaan Universitas Leiden (socrates.leidenuniv.nl), OD-3868, OD-3869, OD-3870, OD-3871, OD-3872, OD-3873, OD-3874


Merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bisa berkecimpung dalam hal seperti ini. Bahagia karena bisa bergabung dengan tradisi kuno, membagi sumber belajar dan membantu teman-teman di luar sana (“paleografofili” , bener ga ya?). Bukanlah hal yang berlebihan menurut saya, jika orang-orang non pendidikan arkeologi, filologi, atau epigrafi punya minat terhadap aksara-aksara kuno seperti ini. Semua manusia punya kaitan dengan sejarah perkembangan bangsanya. Semangat untuk mempeajari aksara kuno seperti ini bagaikan de javu di angan saya.
Akan sangat berpengaruh – menurut saya – bagi  perkembangan suatu bangsa jika masyarakat di dalamnya punya wawasan mengenai kebudayaannya sendiri. Akan ada banyak contoh di mancanegara sana, bagaimana bangsanya begitu menyatu dengan kearifan warisan leluhurnya. Apalagi warisan leluhur juga menyatu dengan perkembangan global. Kita lihat saja negara tetangga kita di ASEAN: Thailand, Kamboja, Burma, dan Myanmar yang masih menjunjung tinggi aksara nasionalnya. Keadaan tersebut membuat masyarakatnya begitu khas, apalagi berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi. Itu mengenai aksara nasional yang masih dipakai. Bagaimana dengan aksara kuno? Memang aksara kuno dipastikan pemakaiannya sangat minor, hanya beberapa kalangan tertentu. Namun integrasi aksara kuno dengan teknologi informasi akan menjadi sangat keren karena…. Ini bisa membuka akses ke semua orang yang ingin belajar (atau paling tidak membuat orang tahu) menjadi lebih mudah. Sebagaimana kita tahu, dewasa ini internet sangat gencar gempurannya terhadap berbagai sendi kehidupan manusia. Hati-hati identitas kebangsaan kita “tertukar” dengan bangsa lain. Jangan lagi-lagi terulang jiwa kekanak-kanakan kita ketika kawan kita ingin memanfaatkan keadaan ketika kita sedang teler. Teler sama kebudayaan plastik.