Jumat, 18 Juli 2014

Aksara Vokal dari Zaman Raja Sri Suradhipa

Sumber gambar: Repositori Digital Perpustakaan Universitas Leiden (socrates.leidenuniv.nl), OD-3868, OD-3869, OD-3870, OD-3871, OD-3872, OD-3873, OD-3874


Merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bisa berkecimpung dalam hal seperti ini. Bahagia karena bisa bergabung dengan tradisi kuno, membagi sumber belajar dan membantu teman-teman di luar sana (“paleografofili” , bener ga ya?). Bukanlah hal yang berlebihan menurut saya, jika orang-orang non pendidikan arkeologi, filologi, atau epigrafi punya minat terhadap aksara-aksara kuno seperti ini. Semua manusia punya kaitan dengan sejarah perkembangan bangsanya. Semangat untuk mempeajari aksara kuno seperti ini bagaikan de javu di angan saya.
Akan sangat berpengaruh – menurut saya – bagi  perkembangan suatu bangsa jika masyarakat di dalamnya punya wawasan mengenai kebudayaannya sendiri. Akan ada banyak contoh di mancanegara sana, bagaimana bangsanya begitu menyatu dengan kearifan warisan leluhurnya. Apalagi warisan leluhur juga menyatu dengan perkembangan global. Kita lihat saja negara tetangga kita di ASEAN: Thailand, Kamboja, Burma, dan Myanmar yang masih menjunjung tinggi aksara nasionalnya. Keadaan tersebut membuat masyarakatnya begitu khas, apalagi berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi. Itu mengenai aksara nasional yang masih dipakai. Bagaimana dengan aksara kuno? Memang aksara kuno dipastikan pemakaiannya sangat minor, hanya beberapa kalangan tertentu. Namun integrasi aksara kuno dengan teknologi informasi akan menjadi sangat keren karena…. Ini bisa membuka akses ke semua orang yang ingin belajar (atau paling tidak membuat orang tahu) menjadi lebih mudah. Sebagaimana kita tahu, dewasa ini internet sangat gencar gempurannya terhadap berbagai sendi kehidupan manusia. Hati-hati identitas kebangsaan kita “tertukar” dengan bangsa lain. Jangan lagi-lagi terulang jiwa kekanak-kanakan kita ketika kawan kita ingin memanfaatkan keadaan ketika kita sedang teler. Teler sama kebudayaan plastik.

Namun, apa yang terjadi di negeri kita tercinta? Saya punya impian bahwa bahasa dan aksara khas daerah juga tetap bisa menjadi pemersatu bangsa. Mungkin dulu kita pernah merasakan persadanya Nusantara lewat pemakaian 1 aksara pokok, seperti Pallawa dan Kawi. Walaupun lambat laun masing-masing daerah menunjukkan kemampuannya dalam penyesuaian aksara tersebut ke bahasa masing-masing. Namun aksara-aksara Nusantara yang tersisa sekarangpun tidak punya kekuatan yang cukup! Buktinya kita sudah “kecolongan” aksara Hangul yang menjadikan dirinya menjadi aksara bahasa Bau Bau. Ga tanggung-tanggung, dari Korea! Untuk itulah saya perlu peduli dengan aksara-aksara Nusantara. Paling tidak yang menurut saya masih mudah dipelajari, dan dekat dengan bahasa daerah saya.
Kenapa aksara Kawi? Aksara Kawi adalah aksara kuno yang dipakai untuk menuliskan beberapa bahasa kuno, diantaranya Jawa kuno, Bali kuno, dan Melayu kuno. Aksara ini belakangan telah tergantikan bentuknya dengan bentuk aksara modern “hanacaraka”.   Warisan leluhur ini layak kita pelajari karena telah ikut andil dalam membangun kebesaran bangsa kita sejak masa kuno sampai saat ini. Ada yang sadar, nggak ya? Hehe… Sebagai orang Bali, saya merasa dekat dengan leluhur. Termasuk dengan warisannya. Kita bisa mengenal karakteristik para pendahulu kita lewat legacy yang ditorehkan di lontar, prasasti, dan buku. Melalui aksara-aksara ini beliau mengomunikasikan berbagai ilmu pengetahuan; kesehatan, arsitektur, pemerintahan, moralitas, dsb. Perjalanan  panjang ini jangan sampai tidak disadari oleh generasi modern sekarang. Tapi ini sudah terjadi, sih. Ada prasasti tersimpan di pura, misalnya, tidak bisa dibaca oleh masyarakat setempat. Kan lucu, kita berbangga mati-matian dengan kebudayaan asing, tapi kebudayaan negeri sendiri malah dianggap sampah. Ini sama konyolnya seperti kita yang cinta mati-matian sama orang lain tapi melupakan diri sendiri. Mabuk.
Itulah alasan saya menyusun tabel-tabel aksara di blog ini. Tabel aksara ini masih dibuat dengan metode sederhana, tanpa pendekatan-pendekatan formal. Mungkin tidak memenuhi standar yang dipelajari oleh teman-teman di universitas sana. Tapi saya kira tujuannya tetap sama, yaitu mengidentifikasi aksara-aksara kuno. Aksara kuno yang ada di tabel di bawah ini berasal dari prasasti logam dari Bali. Kalau dilihat-lihat, ada dua jenis gaya penulisan. Saya tidak tahu bagaimana mengatakannya, mungkin ada istilah khusus. Memang saya menggunakan rangkaian gambar 2 prasasti berbeda dari repositori Universitas Leiden, satu dari tahun 1071 Masehi dan 1115 Masehi. Karena tulisan ini masih banyak kekurangan, mohon maaf jika terjadi kekeliruan. Dan mohon koreksinya bagi teman-teman yang lebih kompeten.

*gambar yang dilekatkan kotak-kotak hitam menandakan diakritik/sandhangan, sedangkan kotak hitamnya menggantikan aksara yang hendak diubah bunyinya


To be continued....

Referensi:

socrates.leidenuniv.nl

Tidak ada komentar:

Posting Komentar