Sumber gambar: Repositori Digital Perpustakaan Universitas Leiden (socrates.leidenuniv.nl), OD-3868, OD-3869, OD-3870, OD-3871, OD-3872, OD-3873, OD-3874
Merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bisa berkecimpung dalam hal seperti ini. Bahagia
karena bisa bergabung dengan tradisi kuno, membagi sumber belajar dan membantu teman-teman
di luar sana (“paleografofili” , bener ga ya?). Bukanlah hal yang berlebihan menurut
saya, jika orang-orang non pendidikan arkeologi, filologi, atau epigrafi punya
minat terhadap aksara-aksara kuno seperti ini. Semua manusia punya kaitan
dengan sejarah perkembangan bangsanya. Semangat untuk mempeajari aksara kuno
seperti ini bagaikan de javu di angan saya.
Akan sangat berpengaruh – menurut
saya – bagi perkembangan suatu bangsa
jika masyarakat di dalamnya punya wawasan mengenai kebudayaannya sendiri. Akan
ada banyak contoh di mancanegara sana, bagaimana bangsanya begitu menyatu
dengan kearifan warisan leluhurnya. Apalagi warisan leluhur juga menyatu dengan
perkembangan global. Kita lihat saja negara tetangga kita di ASEAN: Thailand,
Kamboja, Burma, dan Myanmar yang masih menjunjung tinggi aksara nasionalnya. Keadaan
tersebut membuat masyarakatnya begitu khas, apalagi berjalan beriringan dengan perkembangan
teknologi. Itu mengenai aksara nasional yang masih dipakai. Bagaimana dengan
aksara kuno? Memang aksara kuno dipastikan pemakaiannya sangat minor, hanya
beberapa kalangan tertentu. Namun integrasi aksara kuno dengan teknologi
informasi akan menjadi sangat keren karena…. Ini bisa membuka akses ke semua
orang yang ingin belajar (atau paling tidak membuat orang tahu) menjadi lebih
mudah. Sebagaimana kita tahu, dewasa ini internet sangat gencar gempurannya
terhadap berbagai sendi kehidupan manusia. Hati-hati identitas kebangsaan kita
“tertukar” dengan bangsa lain. Jangan lagi-lagi terulang jiwa kekanak-kanakan
kita ketika kawan kita ingin memanfaatkan keadaan ketika kita sedang teler.
Teler sama kebudayaan plastik.
Namun, apa yang terjadi di negeri kita tercinta? Saya punya impian bahwa bahasa dan aksara khas daerah juga tetap bisa menjadi pemersatu bangsa. Mungkin dulu kita pernah merasakan persadanya Nusantara lewat pemakaian 1 aksara pokok, seperti Pallawa dan Kawi. Walaupun lambat laun masing-masing daerah menunjukkan kemampuannya dalam penyesuaian aksara tersebut ke bahasa masing-masing. Namun aksara-aksara Nusantara yang tersisa sekarangpun tidak punya kekuatan yang cukup! Buktinya kita sudah “kecolongan” aksara Hangul yang menjadikan dirinya menjadi aksara bahasa Bau Bau. Ga tanggung-tanggung, dari Korea! Untuk itulah saya perlu peduli dengan aksara-aksara Nusantara. Paling tidak yang menurut saya masih mudah dipelajari, dan dekat dengan bahasa daerah saya.
Kenapa aksara Kawi? Aksara Kawi
adalah aksara kuno yang dipakai untuk menuliskan beberapa bahasa kuno,
diantaranya Jawa kuno, Bali kuno, dan Melayu kuno. Aksara ini belakangan telah
tergantikan bentuknya dengan bentuk aksara modern “hanacaraka”. Warisan
leluhur ini layak kita pelajari karena telah ikut andil dalam membangun
kebesaran bangsa kita sejak masa kuno sampai saat ini. Ada yang sadar, nggak
ya? Hehe… Sebagai orang Bali, saya merasa dekat dengan leluhur. Termasuk dengan
warisannya. Kita bisa mengenal karakteristik para pendahulu kita lewat legacy
yang ditorehkan di lontar, prasasti, dan buku. Melalui aksara-aksara ini beliau
mengomunikasikan berbagai ilmu pengetahuan; kesehatan, arsitektur,
pemerintahan, moralitas, dsb. Perjalanan
panjang ini jangan sampai tidak disadari oleh generasi modern sekarang.
Tapi ini sudah terjadi, sih. Ada prasasti tersimpan di pura, misalnya, tidak
bisa dibaca oleh masyarakat setempat. Kan lucu, kita berbangga mati-matian
dengan kebudayaan asing, tapi kebudayaan negeri sendiri malah dianggap sampah.
Ini sama konyolnya seperti kita yang cinta mati-matian sama orang lain tapi
melupakan diri sendiri. Mabuk.
Itulah alasan saya menyusun tabel-tabel aksara di blog ini. Tabel
aksara ini masih dibuat dengan metode sederhana, tanpa pendekatan-pendekatan
formal. Mungkin tidak memenuhi standar yang dipelajari oleh teman-teman di
universitas sana. Tapi saya kira tujuannya tetap sama, yaitu mengidentifikasi
aksara-aksara kuno. Aksara kuno yang ada di tabel di bawah ini berasal dari prasasti
logam dari Bali. Kalau dilihat-lihat, ada dua jenis gaya penulisan. Saya tidak
tahu bagaimana mengatakannya, mungkin ada istilah khusus. Memang saya
menggunakan rangkaian gambar 2 prasasti berbeda dari repositori Universitas
Leiden, satu dari tahun 1071 Masehi dan 1115 Masehi. Karena tulisan ini masih
banyak kekurangan, mohon maaf jika terjadi kekeliruan. Dan mohon koreksinya
bagi teman-teman yang lebih kompeten.
*gambar yang dilekatkan kotak-kotak hitam menandakan diakritik/sandhangan, sedangkan kotak hitamnya menggantikan aksara yang hendak diubah bunyinya
To be continued....
Referensi:
socrates.leidenuniv.nl
Referensi:
socrates.leidenuniv.nl

Tidak ada komentar:
Posting Komentar