Tampilkan postingan dengan label Prasasti Logam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prasasti Logam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Agustus 2014

Pemasangan Wirama di Prasasti Logam Zaman Sri Suradhipa

      Tulisan ini masih dalam seri prasasti Bali Kuno yang ditatahkan pada logam di zaman Raja Sri Suradhipa. Dalam prasasti ini, ternyata pemasangan wirama/adegadeg/paten memiliki pola tersendiri. Wirāma/ patén/ adegadeg berbentuk setengah atau tigaperempat lingkaran yang ditulis/dipahat dari atas aksara ke arah jarum jam sampai bawah aksara. 

Gambar 1

Terdapat beberapa kasus pengecualian untuk ka, ta, dan ga. Ketiga aksara ini merupakan aksara yang memiliki kuncir ketika berdiri sendiri. Namun, ketika mendapat pemasangan wirama, kuncir tersebut dihilangkan.

Jumat, 08 Agustus 2014

Pemasangan Tedong pada Prasasti Logam dari Zaman Sri Suradhipa

      Ada yang khas dalam penulisan suara dīrgha “a”, atau yang disebut tarung/tedong di prasasti logam dari zaman Sri Suradhipa ini. Aksara-aksara seperti: ṅa, ṭa, pa, la, dan ba akan punya bentuk yang berbeda jika suara a-nya dipanjangkan. Hal ini dilakukan oleh citralekha agar tidak terjadi kebingungan pembacaan. Soalnya, beberapa aksara yang disebutkan di atas dapat memiliki bentuk yang mirip dengan aksara lain jika tidak diakali pemasangan tarung/tĕdong-nya. Namun, untuk beberapa kasus, pemasangan tarung/tĕdong tetap diseragamkan. Bisa dilihat seperti di bawah ini:

Gambar 1
 Bandingkan dengan:

Selasa, 05 Agustus 2014

Aksara Konsonan dan Tanda Baca dari Zaman Raja Sri Suradhipa

Sumber gambar: Universitas Leiden, OD-3868, OD-3869, OD-3870, OD-3871, OD-3872, OD-3873, OD-3874


      Sebagaimana aksara turunan aksara Brahmī lainnya, aksara Bali Kuno juga punya seperangkat aksara yang mengandung fonem Sanskerta. Namun pada masa kini, di Indonesia fonem-fonem tersebut diucapkan tidak sepenuhnya sama dengan bahasa Sanskerta. Di tabel berikut ini ditampilkan hanya 30 bentuk aksara konsonan (akṣara wyañjana) dan 29 bentuk aksara konjungsi (pangangge akṣara/pasangan).  Bentuknya yang persegi membuat aksara-aksara ini tampil kaku, namun rapi. Mungkin aksara yang kaku ini disesuaikan dengan media penulisannya, yaitu logam.  Selain itu juga dipahat dengan sedikit miring. Adanya kuncir di beberapa aksara menjadi ciri khasnya. Apalagi dengan ukurannya yang cukup panjang. Ketebalan garis juga memberikan kesan semi-bold sehingga ukuran tiap aksara juga besar-besar.
     Selain konsonan, juga diberikan tabel tanda baca dan bentuk layar/surang dan tanda baca lainnya.

Jumat, 18 Juli 2014

Aksara Vokal dari Zaman Raja Sri Suradhipa

Sumber gambar: Repositori Digital Perpustakaan Universitas Leiden (socrates.leidenuniv.nl), OD-3868, OD-3869, OD-3870, OD-3871, OD-3872, OD-3873, OD-3874


Merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bisa berkecimpung dalam hal seperti ini. Bahagia karena bisa bergabung dengan tradisi kuno, membagi sumber belajar dan membantu teman-teman di luar sana (“paleografofili” , bener ga ya?). Bukanlah hal yang berlebihan menurut saya, jika orang-orang non pendidikan arkeologi, filologi, atau epigrafi punya minat terhadap aksara-aksara kuno seperti ini. Semua manusia punya kaitan dengan sejarah perkembangan bangsanya. Semangat untuk mempeajari aksara kuno seperti ini bagaikan de javu di angan saya.
Akan sangat berpengaruh – menurut saya – bagi  perkembangan suatu bangsa jika masyarakat di dalamnya punya wawasan mengenai kebudayaannya sendiri. Akan ada banyak contoh di mancanegara sana, bagaimana bangsanya begitu menyatu dengan kearifan warisan leluhurnya. Apalagi warisan leluhur juga menyatu dengan perkembangan global. Kita lihat saja negara tetangga kita di ASEAN: Thailand, Kamboja, Burma, dan Myanmar yang masih menjunjung tinggi aksara nasionalnya. Keadaan tersebut membuat masyarakatnya begitu khas, apalagi berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi. Itu mengenai aksara nasional yang masih dipakai. Bagaimana dengan aksara kuno? Memang aksara kuno dipastikan pemakaiannya sangat minor, hanya beberapa kalangan tertentu. Namun integrasi aksara kuno dengan teknologi informasi akan menjadi sangat keren karena…. Ini bisa membuka akses ke semua orang yang ingin belajar (atau paling tidak membuat orang tahu) menjadi lebih mudah. Sebagaimana kita tahu, dewasa ini internet sangat gencar gempurannya terhadap berbagai sendi kehidupan manusia. Hati-hati identitas kebangsaan kita “tertukar” dengan bangsa lain. Jangan lagi-lagi terulang jiwa kekanak-kanakan kita ketika kawan kita ingin memanfaatkan keadaan ketika kita sedang teler. Teler sama kebudayaan plastik.

Rabu, 25 September 2013

Langka! Teks Dharani Buddhis di Prasasti Logam Nusantara


Gambar1. OD-2195
(1) // tadyathā oṁ wipula garbhe wipula bimale jaya garbhe wajrajvāla ga
(2) rbhbhe gati gahane gagana wiśodhane sarbwa pāpa wiśoḍhane oṁ gu
(3) nawatī gagana wicāriṇi giri giri ' gamari gamari gaha gaha ' ga
(4) rbhbhāri garbhbhāri ' gabhari gabhari gambhari gambhari ' gati gati ' ga
(5) ni gamare gubha gubha gubhani gubhani cale bimale mu
(6) cĕle jaye wijaye ' sarbwa bhaya wigate
(7) gambha sambharaṇi siri siri miri mi
(8) ri piri piri ghiri ghiri sama
(9) ntā kamāṇi sabisatra pramaṣāni
(10) rakṣa rakṣa masa pariwara (sakṣi)sakṣi
(11) śca ' wiri wiri wiri dhādharaṇa wina
(12) śini muri muri mili mili ' ka
(13) male wimale jaye wi
(14) jaye jayā wijayā jayā
(15) wati bhagawati ratna maku
(16) ṭa malādhari wahuwika wicitra weśa dha
(17) riṇi ' bhagawati mahāwidyā dewi rakṣa

Kamis, 16 Mei 2013

Prasasti Lokanatha dari Padang Lawas

Gambar 1. Arca Bhatara Lokanatha (sumber: Bernet-Kempers 1959)

     Prasasti Bhatara Lokanātha ditemukan di Gunung Tua, Kecamatan Gunung Tua, Kabupaten Padang Lawas, sekarang disimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris B. 626b. Prasasti menggunakan aksara Pasca Pallawa, bahasa yang dipergunakan adalah Melayu Kuno. Prasasti ditulis tiga baris pada bagian belakang lapik arca Lokanātha, arca tersebut digambarkan berdiri (ābańga) pada lapik berbentuk teratai diapit oleh arca Tārā di kanan-kirinya, namun arca Tārā tersebut tinggal satu. Arca Tārā digambarkan duduk bersila di atas lapik teratai. Ketiga bantalan teratai berada pada alas yang berdenah segi empat, tempat dituliskan prasasti.

Gambar 2. Prasasti Lokanatha (dokumentasi B. B. Utomo)

Jumat, 05 Oktober 2012

Alih-aksara Prasasti Poleng II (Humanding) (1)

Prasasti Humanding atau prasasti Polengan II terdiri dari tiga lempeng tembaga. Ditemukan di Kelurahan Krapyak, Kec. Kenaren, Kab. Kalasan, Yogyakarta. Beberapa ahli epigrafi telah membahas prasasti ini, diantaranya: Damais, Stutterheim, Sarkar, dan Boechari. Prasasti ini berisikan penganugrahan tanah di Humanding oleh Rakai Kayuwangi untuk dijadikan tanah perdikan mendirikan bangunan suci di Gunung Hyang. Berikut saya lampirkan Gambar dan alih-aksara prasastinya.


Gambar 1. Foto prasasti 
Sumber: Perpustakaan Leiden (OD-13692)



Gambar 2. Repro prasasti.


Alih-aksara:

Aksara Kawi "cha"

   Selama ini, ada beberapa aksara Kawi yang membuat saya benar-benar penasaran, yaitu: cha, jha, ḍa, ḍha, ṭa, dan ṭha. Aksara-aksara ini sangat jarang kemunculannya di gambar-gambar prasasti yang pernah saya amati. Ada sumber yang menampilkan beberapa aksara tadi yang  merupakan salinan dari beberapa prasasti di zaman-zaman tertentu (Tabel van Oud en Nieuw Indische Alphabetten yang menampilkan aksara aksara-aksara tadi kecuali cha dan ḍha). Padahal, di satu sumber yang saya dapatkan, ada satu lempeng inskripsi yang menulis semua aksara Kawi yang disusun mirip mantra.   Berikut adalah satu bentuk aksara cha yang bisa diamati dengan jelas. Aksara ini terpahat pada lempeng prasasti Pura Endek yang dikeluarkan oleh Raja Ugrasena*.
Gambar potongan dari prasasti Pura Endek .