Kronogram, atau lebih
dikenal dengan sengkalan di
Nusantara, adalah sebuah metode penggunaan kata-kata menjadi sebuah kalimat
untuk menggantikan angka tahun. Sengkalan sendiri terbagi menjadi dua, yaitu suryasengkala dan candrasengkala. Dari
asal katanya, suryasengkala disusun
dari dua kata, surya berarti
matahari dan sengkala berarti
tahun. Jadi bisa dikatakan bahwa suryasengkala adalah penulisan tahun
berdasarkan perputaran matahari (tahun matahari/solar). Sedangkan candrasengkala sendiri berarti penulisan tahun
berdasarkan perputaran bulan (tahun bulan/lunar) Kata-kata yang ada di sengkalan mengandung makna tersendiri yang
mewakili angka tertentu. Contoh, kata sirna yang
berarti hilang; pergi, mewakili angka 0 (nol). Uniknya lagi, angka dari
candrasengkala tidak dibaca sesuai dengan urutan katanya (kiri ke kanan), tapi
dibaca terbalik. Salah satu sengkalan yang terkenal adalah sirna (0) ilang (0) kertaning (4) bhumi (1) (1400 Saka), yang merupakan
tanda dari kemunduran Majapahit. Berikut ini adalah salah
satu contoh kronogram, walaupun yang tidak terkenal, tapi ini salah satu
kronogram yang saya coba pecahkan sendiri. Hehe
![]() |
| Gambar 1. OD-1740. |
Gambar 1 adalah sebuah foto lempeng batu dari Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur dari tahun 1914 karya Leydie Melville H. Batu ini bertuliskan candrasengkala dengan aksara Kawi yang berbunyi "ṛṣi gaṇa dadi wwang". Jika diartikan dengan harfiah, kalimat ini berarti Gaṇeśa (berubah/menjelma) menjadi manusia. Menurut sumber dari Begawan Arianta, kata-kata tersebut bisa dibedah maknanya sebagai berikut. Ṛṣi artinya orang suci/pendeta bermakna 7, gaṇa berarti gana – salah satu makhluk mitologis Hindu-Buddha – bermakna 6, dadi berarti menjadi bermakna 4, dan wwang berarti manusia yang bermakna 1. Jika dijadikan angka tahun, maka sengkalan ini menjadi 1467 Śaka (1533 Masehi). Namun, metadata yang menyertai OD-1740 mengatakan kronogram ini adalah angka tahun 1167. Saya menyertakan gambar digitalisasi aksara Kawi salinan dari prasasti tersebut (gambar 1) untuk memperjelas bentuknya bagi pembaca. Tetapi versi digital ini tidak mewakili karakteristik aksara Kawi masa tertentu.
![]() |
| Gambar 2. Versi digital aksara Kawi yang ada di OD-1740. |
Sumber Gambar


Tidak ada komentar:
Posting Komentar