Tampilkan postingan dengan label Prasasti Batu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prasasti Batu. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 September 2014

Prasasti Jragung dan Pedanda Buddha di Bali

Gambar 1. Prasasti Jragung di Prambanan
Durgatipariśodhana Tantra adalah sebuah pustaka Buddhis yang merujuk pada tradisi Yoga Tantra. Ajaran ini dibabarkan oleh Buddha Śākyamuṇi kepada sekelompok dewa dalam bentuk percakapan dan tanya jawab. Di antara para dewa, terdapatlah Dewa Indra yang bertanya kepada Sang Buddha mengenai seorang dewa muda, Vimalamaṇiprabha yang terjatuh dari Surga 33 Dewa ke neraka avici. Buddha menjawab bahwa setelah dewa muda ini masuk ke neraka avici, dia mengalami penderitaan yang tak tertahankan. Para dewa sangat sedih dan terpukul mendengar kabar tersebut. Mengetahui keadaannya demikian, Dewa Indra bertanya kepada Buddha cara menyelamatkan Vimalamaṇiprabha sekaligus makhluk lain agar selamat dari deritanya dan segera terlahir kembali.

Senin, 17 Maret 2014

Jejak Aksara Kawi Langka (ṭha ठ)

Hua.... Bener-bener tidur panjang ini namanya. Tugas-tugas di akhir semester perkuliahan selalu bisa bikin mahasiswa cengar-cengir. Apalagi mahasiswanya ngalor ngidul, alias kurang bisa fokus. Tapi yang namanya kuliah, tugas sekecil apapun ya mesti diselesaikan. Soalnya tugas yang ga dikerjakan itu kaya telor busuk. Makin lama didiemin makin bau. Kalo udah bau, deket-deket aja males. Sialnya lagi, telornya harus dikonsumsi pula. Alhasil, blog makin kurang postingan, memang nggak bisa dihindari.

Oke, hal di atas itu jangan dibaca. Tapi kalo udah terlanjur dibaca, lupakan saja. Kalo ga bisa lupa, tulis aksara Kawi di 20 lembar kertas kosong. Dijamin...Lupa? Ya nggak juga, sih.

Baiklah, tulisan singkat ini saya jadikan pemanasan setelah hibernasi (kayaknya udah jadi bubur, nasinya). Topiknya tetap menjadi kegemaran saya; aksara langka. Kali ini adalah aksara ṭha (ठ) .



Terkesan memaksakan kehendak kelihatannya.

Selasa, 14 Mei 2013

Kronogram dari Mojokerto


      Kronogram, atau lebih dikenal dengan  sengkalan di Nusantara, adalah sebuah metode penggunaan kata-kata menjadi sebuah kalimat untuk menggantikan angka tahun. Sengkalan sendiri terbagi menjadi dua, yaitu suryasengkala dan candrasengkala. Dari asal katanya, suryasengkala disusun dari dua kata, surya berarti matahari dan sengkala berarti tahun. Jadi bisa dikatakan bahwa suryasengkala adalah penulisan tahun berdasarkan perputaran matahari (tahun matahari/solar). Sedangkan candrasengkala sendiri berarti penulisan tahun berdasarkan perputaran bulan (tahun bulan/lunar) Kata-kata yang ada di sengkalan mengandung makna tersendiri yang mewakili angka tertentu. Contoh, kata sirna yang berarti hilang; pergi, mewakili angka 0 (nol). Uniknya lagi, angka dari candrasengkala tidak dibaca sesuai dengan urutan katanya (kiri ke kanan), tapi dibaca terbalik. Salah satu sengkalan yang terkenal adalah sirna (0) ilang (0) kertaning (4) bhumi (1) (1400 Saka), yang merupakan tanda dari kemunduran Majapahit. Berikut ini adalah salah satu contoh kronogram, walaupun yang tidak terkenal, tapi ini salah satu kronogram yang saya coba pecahkan sendiri. Hehe



Gambar 1. OD-1740.

Kamis, 09 Mei 2013

Tiga Prasasti Patapan dari Kali Garang

      Patapan, sebuah kata dari bahasa Jawa Kuna yang berarti tempat bertapa. Patapan memiliki akar kata tapa yang berarti praktik penyangkalan diri, praktik asketisme, atau disiplin diri dalam hal spiritual. Tiga gambar prasasti yang didapat dari halaman Perpustakaan Universitas Leiden ini berasal dari Kali Garang, Semarang, Jawa Tengah. Prasasti-prasasti ini berisikan batas-batas patapan itu sendiri. Dua prasasti di antaranya memuat kata kidul (selatan) dan laur (lor/utara). Satu prasasti terakhir punya dua aksara sejenis yang  memiliki bentuk 'tidak biasa'. Sepertinya aksara ini paling cocok dialihaksarakan sebagai lu (dalam kata luah). Patén/adĕgadĕg/wirama pada prasasti ini mengingatkan pada wirama yang ada pada prasasti Wayuku yang bertarikh 779 Śaka. Apakah prasasti ini berasal pada era yang berdekatan? Dengan dimensi 37 x 30 x 30 cm, berikut ini alihaksaranya.

Selasa, 09 Oktober 2012

Prasasti Pasir Panjang yang beraksara Lantsa!

Prasasti Pasir Panjang

Catatan tertua tentang masuknya aksara Nāgarī telah adalah tahun 700 Masehi. Aksara Nāgarī  berkembang di India yang menurunkan banyak sistem penulisan di sana. Aksara ini merupakan aksara yang berasal dari daerah timur laut India, berbeda dengan Pallawa yang berasal dari bagian India Selatan. Jenis aksara ini pun beraneka ragam di beberapa prasasti. Di Pasir Panjang, ditemukan yang satu ini; aksara yang disebut Nāgarī Awal. Aksara ini mirip dengan aksara Rañjana atau Lantsa yang sebagian besar digunakan oleh penganut Mahāyāna di daerah Nepal dan Tibet. Karimun Besar bukan merupakan daerah penting dalam dunia pemerintahan terdahulu, oleh karena itu penemuan prasasti ini cukup mengagetkan. Prasasti ini diduga dibuat pada tahun 900-1000 Masehi pada akhir masa Śrīwijaya oleh para terpelajar yang sudah belajar di negeri India (Bengal). Prasasti ini diukir di permukaan batu granit, dengan tiga baris tulisan dan 17 aksara.
Gambar 1. Foto prasasti diambil dari atas.
Sumber:  Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 150 (1994), no: 3.



Gambar 2. Foto prasasti diambil dari bawah.
Sumber: http://2.bp.blogspot.com/_t-zFMe3ahlY/TLqxj7wmHQI/
AAAAAAAADPI/oIlo8u3nH4c/s1600/
untitled.bmp

Gambar 3.
Lihat ligatur gau  pada alinea 3 (OD-20248).

Gambar 4. 
Salinan aksara pada prasasti.
Sumber: Pribadi.



Alihaksara Aksara di Arca Agastya

OD-1176c

      Ada tujuh Maha Rsi yaitu Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasista, dan Kanwa yang menerima wahyu Weda di India sekitar 3000 tahun sebelum Masehi.  Mereka mengembangkan agama Hindu masing-masing menurut bagian-bagian Weda tertentu. Kemudian para pengikutnya mengembangkan ajaran yang diterima dari guru mereka sehingga lama kelamaan terbentuklah sekta-sekta yang jumlahnya ratusan. 
     Sekte-sekte yang terbanyak pengikutnya antara lain: Pasupata, Linggayat Bhagawata, Waisnawa, Indra, Saura, dan Siwa Siddhanta. Sekta Siwa Siddhanta dipimpin oleh Maha Rsi Agastya di daerah Madyapradesh (India tengah) kemudian menyebar ke Indonesia. 



Gambar 1. Arca Rsi Agastya dari Singasari

      Di Indonesia seorang Maha Rsi pengembang sekta ini dikenal dengan berbagai nama antara lain : Kumbhayoni, Hari Candana, Kalasaja, dan Trinawindu. Di Indonesia dengan jelas disebut dalam prasasti Dinaya.

Aksara Kawi di Candi Plaosan Lor (4)

Postingan ini terwujud setelah ada permintaan dari pian Anang. Ada beberapa ukiran yang masih tercecer untuk dialih-aksarakan :p. Terimakasih Pian, sudah memberikan saran untuk memperkaya blog ini...
Ada enam buah ukiran aksara yang akan dialihaksarakan di postingan kali ini. Silakan menikmati!


Gambar 1. OD-18969
Alih-aksara:
anumoda saŋ maŋḍaṇḍar pu tahun


Gambar 2. OD-18976
Alih-aksara:
anumoda saŋ ḍāṅgul pu candra


Sabtu, 06 Oktober 2012

Alih-aksara Prasasti Manjusri di Candi Jago

Arca Mañjuśrī sebagai perwujudan dari Wiṣṇuwardhana, ayah Kṛtanāgara. Berangka tahun 1265 Saka.


Gambar 1. Arca Mañjuśrī.

Aksara Kawi Kuadrat di Gunung Panulisan

Bagi yang pernah merasakan dinginnya Kintamani, pasti tahu indahnya danau Batur yang bersanding dengan gunung Batur yang kokoh. Namun, apakah Anda tahu bahwa ada sebuah situs di dekat situ yang menyimpan banyak peninggalan purbakala? 


Gambar 1.
Arca Bhatari Mandul.
Sumber: 
Monumental Bali:
introduction to Balinese archaeology:
guide to the monuments
 
Di gunung berketinggian 1745 meter di atas permukaan laut - Gunung/ Bukit Panulisan - pura Tegeh Koripan berdiri diselimuti kabut tebal. Nama desa tempat berdirinya pura ini adalah Sukawana. Beberapa ilmuwan dan ahli purbakala telah mengunjungi situs yang ada di Gunung Panulisan sejak tahun 1885, diantaranya: Dr. J. Jacobs, Shcwartz, C. M. Pleyte, Nieuwenkamp, Goris, dan Stutterheim.

Salah satu peninggalan yang ada di Pura Tegeh Koripan adalah arca-berdiri Bhaṭārī Mandul. Bhaṭārī Mandul diperkirakan adalah seorang figur dewi gunung yang digambarkan sebagai seorang ratu/ putri. Arca ini terpecah menjadi tiga bagian. Di bagian belakang pecahan arca yang terbesar memuat satu baris ukiran aksara Kaḍiri/ Keḍiri Kuadrat yang terbaca: bhaṭārī mandul. Aksara bha keadaannya sudah aus, namun aksara lain
masih bisa  terbaca dengan baik. Belakangan, pecahan terkecil arca ini ditemukan oleh Stutterheim dan bertuliskan angka 999 (Saka) atau 1077 Masehi. 

Alih-aksara Prasasti Pura Sibi I

OD-9335


Prasasti Pura Sibi I yang ditemukan di desa Kesihan, Bali.
Prasasti ini adalah bagian belakang arca Bhagawan Agastya.

Prasasti ini memiliki tiga baris penulisan aksara. Aksara-aksara masih jelas dibaca dengan keadaannya yang cukup baik dan bertipe kuadrat. 

Alih-aksara:

Alih-aksara Prasasti Pura Sibi III

Sumber Gambar: socrates.leidenuniv.nl, OD-9337

Prasasti Pura Sibi III
Kata-kata di dalam prasasti banyak yang mirip dengan prasasti Pura Sibi I. Prasasti berbahan batu ini bertuliskan aksara penampakannya berbeda dengan prasasti Pura Sibi pertama; prasasti ini bertuliskan aksara bali kuna bukan kuadrat, yang bisa disebut tipe stilus. Prasasti ini terdiri atas tiga baris aksara yang masih bisa dibaca walaupun banyak "cakaran-cakaran" eksternal.

Alih-aksara:

Alih aksara Ukiran Belakang Arca dari Kesihan

Sumber Gambar: socrates.leidenuniv.nl, OD-9336

Alih-aksara:
// kakinamiḥ nama kṛtaka oṁ //



Alih-aksara Prasasti Gunung Panulisan III

Prasasti Gunung Panulisan III,
memiliki empat baris aksara Bali kuna.


Alih-aksara:
1. iŋ ṣaka 996
2. bulan jeṣṭa su
3. kla trayodasi
4. pasar wijaya maṅgala

Referensi:

Damais Louis-Charles. II. Etudes d'épigraphie indonésienne : IV. Discussion de la date des inscriptions. In: Bulletin de l'Ecole française d'Extrême-Orient. Tome 47 N°1, 1955. pp. 231.

socrates.leidenuniv.nl, OD-8732

Alih-aksara Prasasti Gunung Panulisan I


Alih-aksara:
1. śaka 933 wulan posa (s)ukla(pra)t(i)
2. (pā)da ṛggas pasar wijaya maṅgala ta(tkā)la
3. sira mpu bga anataḥ //

Referensi:
Damais Louis-Charles. II. Etudes d'épigraphie indonésienne : IV. Discussion de la date des inscriptions. In: Bulletin de l'Ecole française d'Extrême-Orient. Tome 47 N°1, 1955. pp. 229.

socrates.leidenuniv.nl, OD-8730

Jumat, 05 Oktober 2012

Aksara Kawi di Candi Plaosan Lor (3)


Gambar 1. OD-18986
alih-aksara:
(anumo)da saŋ dalinan pu bala



Gambar 2. OD-18987
alih-aksara:
anumoda saŋ ḍa tirip pu kaisawa


Aksara Kawi di Candi Plaosan Lor (2)


Gambar 1. OD-18968
alih-aksara:
anumoda saŋ watu humalaŋ pu tguḥ



Gambar 2. OD-18971
alih-aksara:
anumoda saŋ sirikan pu sūryya

Aksara Kawi di Candi Plaosan Lor (1)


Sekilas tentang Candi Plaosan   
   Candi Plaosan terletak di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, kira-kira 1,5 km ke arah timur dari Candi Sewu. Candi ini merupakan sebuah kompleks bangunan kuno yang terbagi menjadi dua, yaitu kompleks Candi Plaosan Lor (lor dalam bahasa Jawa berarti utara) dan kompleks Candi Plaosan Kidul (kidul dalam bahasa Jawa berarti selatan). Candi ini terletak kira-kira satu kilometer ke arah timur-laut dari Candi Sewu atau Candi Prambanan. Adanya kemuncak stupa, arca Buddha, serta candi-candi perwara (pendamping/kecil) yang berbentuk stupa menandakan bahwa candi-candi tersebut adalah candi Buddha. 
   Candi Plaosan oleh para ahli diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram Hindu, yaitu pada awal abad ke-9 M. Salah satu pakar yang mendukung pendapat itu adalah De Casparis yang berpegang pada isi Prasasti Sri Kahulunan (842 M). Dalam prasasti tersebut dinyatakan bahwa Candi Plaosan Lor dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan, dengan dukungan suaminya. Menurut De Casparis, Sri Kahulunan adalah gelar Pramodhawardani, putri Raja Samarattungga dari Wangsa Syailendra. Sang Putri, yang memeluk agama Buddha, menikah dengan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya, yang memeluk agama Hindu.

Aksara Kadiri/ Kediri Kuadrat di Bali

Pahatan Prasasti pada Candi Gunung Kawi
   Pahatan di atas adalah ukiran yang terdapat pada candi Gunung Kawi. Pura ini merupakan Pura Padharman dari Raja Udayana. Artinya, pura ini untuk menstanakan roh suci atau Dewa Pitara keluarga Raja Udayana. Pura ini disebut Gunung Kawi karena yang dikawi atau yang diukir adalah lereng gunung di Sungai Pakerisan. Konon yang mengukir lereng bukit Sungai Pakerisan itu menjadi candi adalah Kebo Iwa, tokoh ahli bangunan atau arsitek pada zaman pemerintahan keluarga Raja Udayana. Kebo Iwa membuat ukiran candi sampai menjadi Pura Gunung Kawi dengan menggunakan kukunya. Raja Udayana adalah raja dari Wamsa Warmadewa. Raja ini memerintah Bali bersama dengan permaisurinya bernama Mahendradata dengan gelar Gunapriya Dharma Patni yang berasal dari Jawa Timur. (http://jalan-miring.blogspot.com/2012/02/pura-gunung-kawi-tampaksiring-gianyar.html )