Tampilkan postingan dengan label Perpustakaan Leiden. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perpustakaan Leiden. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 September 2013

Jejak Vajrayana di Prasasti Jragung

Ternyata gambar prasasti yang ada di postingan saya yang ini adalah prasasti Jragung. Prasasti Jragung merupakan prasasti berbentuk lingga berbahan batu yang berisikan mantra sansekerta. Mantra sebenarnya lebih sering ditatahkan di atas peripih daripada batu seperti ini. Jadi bisa dibilang bahwa prasasti in adalah barang langka J

Nah, setelah lama tidak diusik, saya menemukan ada sebuah mantra Vajrayana yang mirip dengan mantra yang dipahat di prasasti ini. Mantra ini biasa disebut dengan kīlanamantra (mantra pancang), sarvatraidhātukakāyavākcittakīlana-mantra (mantra pemancang tubuh, perkataan, dan pikiran bagi tiga alam). Mantra ini ditujukan kepada Vajrakīla, seorang tokoh surgawi Vajrayana. Mantra ini terdapat pada Vajravārāhī Sādhana oleh Umāpatideva (English, 2002) dan Piṇḍīkrama Sādhana (Brood, 1993) Berikut ini kutipan mantra beserta variannya.


Senin, 16 September 2013

Alih-aksara Prasasti Bata dari Candi Muara Takus

      Terima kasih atas hukum ketertarikan, sepertinya saya punya jodoh dengan gambar ini. Sudah lama saya menemukannya, namun petunjuk yang ada nampaknya belum cukup untuk memecahkan alihaksaranya. Beberapa saat yang lalu, +Bhagya Ng pernah mengirimi saya gambar ini dan kami coba-coba mengalihaksarakannya. Kami punya alihaksara masing-masing, dan ternyata di antara kami nggak ada yang bener alihkasaranya waktu itu. Haha...
Baru-baru ini, pian Anang mempostkan gambar ini di blognya. Beberapa kali ketemu gambar ini kok sepertinya dia terus menggoda untuk bisa dibaca.
kern-gd-13-1321
      Setelah mencari-cari di beberapa sumber, saya belum menemukan nama prasasti ini. Menurut Suleiman (Susetyo, 2010, p. 207), aksara prasasti ini mirip dengan aksara pada prasasti Aek Sangkilon dari Padang Lawas, Sumatera Utara yang secara relatif berasal dari abad ke-14 Masehi. Berbeda dengan Suleiman, Schnitger (Susetyo, 2010, p. 208) berpendapat bahwa aksara ini berasal dari abad ke-12 Masehi. Jika dilihat, penggunaan aksara Nagari tipe ini memang pernah digunakan selama masa pemerintahan Krtanagara pada abad ke-12 di Singasari. Aksaranyapun mirip dengan prasasti di punggung patung Amoghapasa di Candi Jago.

Selasa, 14 Mei 2013

Kronogram dari Mojokerto


      Kronogram, atau lebih dikenal dengan  sengkalan di Nusantara, adalah sebuah metode penggunaan kata-kata menjadi sebuah kalimat untuk menggantikan angka tahun. Sengkalan sendiri terbagi menjadi dua, yaitu suryasengkala dan candrasengkala. Dari asal katanya, suryasengkala disusun dari dua kata, surya berarti matahari dan sengkala berarti tahun. Jadi bisa dikatakan bahwa suryasengkala adalah penulisan tahun berdasarkan perputaran matahari (tahun matahari/solar). Sedangkan candrasengkala sendiri berarti penulisan tahun berdasarkan perputaran bulan (tahun bulan/lunar) Kata-kata yang ada di sengkalan mengandung makna tersendiri yang mewakili angka tertentu. Contoh, kata sirna yang berarti hilang; pergi, mewakili angka 0 (nol). Uniknya lagi, angka dari candrasengkala tidak dibaca sesuai dengan urutan katanya (kiri ke kanan), tapi dibaca terbalik. Salah satu sengkalan yang terkenal adalah sirna (0) ilang (0) kertaning (4) bhumi (1) (1400 Saka), yang merupakan tanda dari kemunduran Majapahit. Berikut ini adalah salah satu contoh kronogram, walaupun yang tidak terkenal, tapi ini salah satu kronogram yang saya coba pecahkan sendiri. Hehe



Gambar 1. OD-1740.

Selasa, 09 Oktober 2012

Prasasti Pasir Panjang yang beraksara Lantsa!

Prasasti Pasir Panjang

Catatan tertua tentang masuknya aksara Nāgarī telah adalah tahun 700 Masehi. Aksara Nāgarī  berkembang di India yang menurunkan banyak sistem penulisan di sana. Aksara ini merupakan aksara yang berasal dari daerah timur laut India, berbeda dengan Pallawa yang berasal dari bagian India Selatan. Jenis aksara ini pun beraneka ragam di beberapa prasasti. Di Pasir Panjang, ditemukan yang satu ini; aksara yang disebut Nāgarī Awal. Aksara ini mirip dengan aksara Rañjana atau Lantsa yang sebagian besar digunakan oleh penganut Mahāyāna di daerah Nepal dan Tibet. Karimun Besar bukan merupakan daerah penting dalam dunia pemerintahan terdahulu, oleh karena itu penemuan prasasti ini cukup mengagetkan. Prasasti ini diduga dibuat pada tahun 900-1000 Masehi pada akhir masa Śrīwijaya oleh para terpelajar yang sudah belajar di negeri India (Bengal). Prasasti ini diukir di permukaan batu granit, dengan tiga baris tulisan dan 17 aksara.
Gambar 1. Foto prasasti diambil dari atas.
Sumber:  Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 150 (1994), no: 3.



Gambar 2. Foto prasasti diambil dari bawah.
Sumber: http://2.bp.blogspot.com/_t-zFMe3ahlY/TLqxj7wmHQI/
AAAAAAAADPI/oIlo8u3nH4c/s1600/
untitled.bmp

Gambar 3.
Lihat ligatur gau  pada alinea 3 (OD-20248).

Gambar 4. 
Salinan aksara pada prasasti.
Sumber: Pribadi.



Sabtu, 06 Oktober 2012

Alih-aksara Prasasti Manjusri di Candi Jago

Arca Mañjuśrī sebagai perwujudan dari Wiṣṇuwardhana, ayah Kṛtanāgara. Berangka tahun 1265 Saka.


Gambar 1. Arca Mañjuśrī.

Aksara Kawi Kuadrat di Gunung Panulisan

Bagi yang pernah merasakan dinginnya Kintamani, pasti tahu indahnya danau Batur yang bersanding dengan gunung Batur yang kokoh. Namun, apakah Anda tahu bahwa ada sebuah situs di dekat situ yang menyimpan banyak peninggalan purbakala? 


Gambar 1.
Arca Bhatari Mandul.
Sumber: 
Monumental Bali:
introduction to Balinese archaeology:
guide to the monuments
 
Di gunung berketinggian 1745 meter di atas permukaan laut - Gunung/ Bukit Panulisan - pura Tegeh Koripan berdiri diselimuti kabut tebal. Nama desa tempat berdirinya pura ini adalah Sukawana. Beberapa ilmuwan dan ahli purbakala telah mengunjungi situs yang ada di Gunung Panulisan sejak tahun 1885, diantaranya: Dr. J. Jacobs, Shcwartz, C. M. Pleyte, Nieuwenkamp, Goris, dan Stutterheim.

Salah satu peninggalan yang ada di Pura Tegeh Koripan adalah arca-berdiri Bhaṭārī Mandul. Bhaṭārī Mandul diperkirakan adalah seorang figur dewi gunung yang digambarkan sebagai seorang ratu/ putri. Arca ini terpecah menjadi tiga bagian. Di bagian belakang pecahan arca yang terbesar memuat satu baris ukiran aksara Kaḍiri/ Keḍiri Kuadrat yang terbaca: bhaṭārī mandul. Aksara bha keadaannya sudah aus, namun aksara lain
masih bisa  terbaca dengan baik. Belakangan, pecahan terkecil arca ini ditemukan oleh Stutterheim dan bertuliskan angka 999 (Saka) atau 1077 Masehi. 

Alih-aksara Prasasti Pura Sibi I

OD-9335


Prasasti Pura Sibi I yang ditemukan di desa Kesihan, Bali.
Prasasti ini adalah bagian belakang arca Bhagawan Agastya.

Prasasti ini memiliki tiga baris penulisan aksara. Aksara-aksara masih jelas dibaca dengan keadaannya yang cukup baik dan bertipe kuadrat. 

Alih-aksara:

Alih-aksara Prasasti Pura Sibi III

Sumber Gambar: socrates.leidenuniv.nl, OD-9337

Prasasti Pura Sibi III
Kata-kata di dalam prasasti banyak yang mirip dengan prasasti Pura Sibi I. Prasasti berbahan batu ini bertuliskan aksara penampakannya berbeda dengan prasasti Pura Sibi pertama; prasasti ini bertuliskan aksara bali kuna bukan kuadrat, yang bisa disebut tipe stilus. Prasasti ini terdiri atas tiga baris aksara yang masih bisa dibaca walaupun banyak "cakaran-cakaran" eksternal.

Alih-aksara:

Alih aksara Ukiran Belakang Arca dari Kesihan

Sumber Gambar: socrates.leidenuniv.nl, OD-9336

Alih-aksara:
// kakinamiḥ nama kṛtaka oṁ //



Alih-aksara Prasasti Gunung Panulisan III

Prasasti Gunung Panulisan III,
memiliki empat baris aksara Bali kuna.


Alih-aksara:
1. iŋ ṣaka 996
2. bulan jeṣṭa su
3. kla trayodasi
4. pasar wijaya maṅgala

Referensi:

Damais Louis-Charles. II. Etudes d'épigraphie indonésienne : IV. Discussion de la date des inscriptions. In: Bulletin de l'Ecole française d'Extrême-Orient. Tome 47 N°1, 1955. pp. 231.

socrates.leidenuniv.nl, OD-8732

Alih-aksara Prasasti Gunung Panulisan I


Alih-aksara:
1. śaka 933 wulan posa (s)ukla(pra)t(i)
2. (pā)da ṛggas pasar wijaya maṅgala ta(tkā)la
3. sira mpu bga anataḥ //

Referensi:
Damais Louis-Charles. II. Etudes d'épigraphie indonésienne : IV. Discussion de la date des inscriptions. In: Bulletin de l'Ecole française d'Extrême-Orient. Tome 47 N°1, 1955. pp. 229.

socrates.leidenuniv.nl, OD-8730

Jumat, 05 Oktober 2012

Ragam Aksara Kawi Tipe Majapahit (1)

Aksara Majapahit (sekira antara 1250 – 1450 M) : Contohnya terdapat pada prasasti-prasasti dari zaman Kerajaan Majapahit; misalnya Prasasti Kudadu dari Mojokerto, Prasasti Adan-adan dari Bojonegoro, dan Prasasti Singhasari dari Malang. Aksara ini merupakan Aksara Kawi yang tiap hurufnya ditulis dengan banyak hiasan sehingga kadang kala sulit dikenali / sulit dibaca. Disebut Aksara Majapahit karena variasi ini banyak dijumpai dari masa Kerajaan Majapahit. 


Tak kopas dari:

http://id.wikipedia.org/wiki/Aksara_Nusantara


+++

Mulai sekarang, saya akan mem-posting tabel rekaan aksara tipe Majapahit yang banyak/ variatif. Ligatur-ligatur ini saya dapatkan dari gambar prasasti anangpaser.wordpress.com, koleksi Perpustakaan Leiden, dan hasil browsingan. Mungkin tabel yang saya berikan masih belum mewakili ragam aksara majapahit yang ada, namun saya berharap kiriman ini bisa bermanfaat bagi semuanya.
Seperti biasa, aksara-aksara yang tak lazim digunakan dalam penulisan bahasa Nusantara tetap ada, karena mau tidak mau harus ada standarisasi aksara Kawi. Saya melihat bahwa hal ini perlu karena aksara Kawi adalah turunan Pallawa yang memang bisa digunakan untuk alih-aksara Sansekerta.  

Gambar 1. Tabel salah satu ragam aksara Kawi tipe Majapahit (1).

Alih-aksara Prasasti Poleng II (Humanding) (1)

Prasasti Humanding atau prasasti Polengan II terdiri dari tiga lempeng tembaga. Ditemukan di Kelurahan Krapyak, Kec. Kenaren, Kab. Kalasan, Yogyakarta. Beberapa ahli epigrafi telah membahas prasasti ini, diantaranya: Damais, Stutterheim, Sarkar, dan Boechari. Prasasti ini berisikan penganugrahan tanah di Humanding oleh Rakai Kayuwangi untuk dijadikan tanah perdikan mendirikan bangunan suci di Gunung Hyang. Berikut saya lampirkan Gambar dan alih-aksara prasastinya.


Gambar 1. Foto prasasti 
Sumber: Perpustakaan Leiden (OD-13692)



Gambar 2. Repro prasasti.


Alih-aksara:

Aksara Kawi di Candi Plaosan Lor (3)


Gambar 1. OD-18986
alih-aksara:
(anumo)da saŋ dalinan pu bala



Gambar 2. OD-18987
alih-aksara:
anumoda saŋ ḍa tirip pu kaisawa


Aksara Kawi di Candi Plaosan Lor (2)


Gambar 1. OD-18968
alih-aksara:
anumoda saŋ watu humalaŋ pu tguḥ



Gambar 2. OD-18971
alih-aksara:
anumoda saŋ sirikan pu sūryya

Aksara Kawi di Candi Plaosan Lor (1)


Sekilas tentang Candi Plaosan   
   Candi Plaosan terletak di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, kira-kira 1,5 km ke arah timur dari Candi Sewu. Candi ini merupakan sebuah kompleks bangunan kuno yang terbagi menjadi dua, yaitu kompleks Candi Plaosan Lor (lor dalam bahasa Jawa berarti utara) dan kompleks Candi Plaosan Kidul (kidul dalam bahasa Jawa berarti selatan). Candi ini terletak kira-kira satu kilometer ke arah timur-laut dari Candi Sewu atau Candi Prambanan. Adanya kemuncak stupa, arca Buddha, serta candi-candi perwara (pendamping/kecil) yang berbentuk stupa menandakan bahwa candi-candi tersebut adalah candi Buddha. 
   Candi Plaosan oleh para ahli diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram Hindu, yaitu pada awal abad ke-9 M. Salah satu pakar yang mendukung pendapat itu adalah De Casparis yang berpegang pada isi Prasasti Sri Kahulunan (842 M). Dalam prasasti tersebut dinyatakan bahwa Candi Plaosan Lor dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan, dengan dukungan suaminya. Menurut De Casparis, Sri Kahulunan adalah gelar Pramodhawardani, putri Raja Samarattungga dari Wangsa Syailendra. Sang Putri, yang memeluk agama Buddha, menikah dengan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya, yang memeluk agama Hindu.