Tampilkan postingan dengan label Buddha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buddha. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Maret 2014

Jejak Aksara Kawi Langka (ṭha ठ)

Hua.... Bener-bener tidur panjang ini namanya. Tugas-tugas di akhir semester perkuliahan selalu bisa bikin mahasiswa cengar-cengir. Apalagi mahasiswanya ngalor ngidul, alias kurang bisa fokus. Tapi yang namanya kuliah, tugas sekecil apapun ya mesti diselesaikan. Soalnya tugas yang ga dikerjakan itu kaya telor busuk. Makin lama didiemin makin bau. Kalo udah bau, deket-deket aja males. Sialnya lagi, telornya harus dikonsumsi pula. Alhasil, blog makin kurang postingan, memang nggak bisa dihindari.

Oke, hal di atas itu jangan dibaca. Tapi kalo udah terlanjur dibaca, lupakan saja. Kalo ga bisa lupa, tulis aksara Kawi di 20 lembar kertas kosong. Dijamin...Lupa? Ya nggak juga, sih.

Baiklah, tulisan singkat ini saya jadikan pemanasan setelah hibernasi (kayaknya udah jadi bubur, nasinya). Topiknya tetap menjadi kegemaran saya; aksara langka. Kali ini adalah aksara ṭha (ठ) .



Terkesan memaksakan kehendak kelihatannya.

Senin, 16 September 2013

Alih-aksara Prasasti Bata dari Candi Muara Takus

      Terima kasih atas hukum ketertarikan, sepertinya saya punya jodoh dengan gambar ini. Sudah lama saya menemukannya, namun petunjuk yang ada nampaknya belum cukup untuk memecahkan alihaksaranya. Beberapa saat yang lalu, +Bhagya Ng pernah mengirimi saya gambar ini dan kami coba-coba mengalihaksarakannya. Kami punya alihaksara masing-masing, dan ternyata di antara kami nggak ada yang bener alihkasaranya waktu itu. Haha...
Baru-baru ini, pian Anang mempostkan gambar ini di blognya. Beberapa kali ketemu gambar ini kok sepertinya dia terus menggoda untuk bisa dibaca.
kern-gd-13-1321
      Setelah mencari-cari di beberapa sumber, saya belum menemukan nama prasasti ini. Menurut Suleiman (Susetyo, 2010, p. 207), aksara prasasti ini mirip dengan aksara pada prasasti Aek Sangkilon dari Padang Lawas, Sumatera Utara yang secara relatif berasal dari abad ke-14 Masehi. Berbeda dengan Suleiman, Schnitger (Susetyo, 2010, p. 208) berpendapat bahwa aksara ini berasal dari abad ke-12 Masehi. Jika dilihat, penggunaan aksara Nagari tipe ini memang pernah digunakan selama masa pemerintahan Krtanagara pada abad ke-12 di Singasari. Aksaranyapun mirip dengan prasasti di punggung patung Amoghapasa di Candi Jago.