Tampilkan postingan dengan label Gelar Bangsawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gelar Bangsawan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Oktober 2012

Aksara Kawi di Candi Plaosan Lor (4)

Postingan ini terwujud setelah ada permintaan dari pian Anang. Ada beberapa ukiran yang masih tercecer untuk dialih-aksarakan :p. Terimakasih Pian, sudah memberikan saran untuk memperkaya blog ini...
Ada enam buah ukiran aksara yang akan dialihaksarakan di postingan kali ini. Silakan menikmati!


Gambar 1. OD-18969
Alih-aksara:
anumoda saŋ maŋḍaṇḍar pu tahun


Gambar 2. OD-18976
Alih-aksara:
anumoda saŋ ḍāṅgul pu candra


Jumat, 05 Oktober 2012

Aksara Kawi di Candi Plaosan Lor (3)


Gambar 1. OD-18986
alih-aksara:
(anumo)da saŋ dalinan pu bala



Gambar 2. OD-18987
alih-aksara:
anumoda saŋ ḍa tirip pu kaisawa


Aksara Kawi di Candi Plaosan Lor (2)


Gambar 1. OD-18968
alih-aksara:
anumoda saŋ watu humalaŋ pu tguḥ



Gambar 2. OD-18971
alih-aksara:
anumoda saŋ sirikan pu sūryya

Aksara Kawi di Candi Plaosan Lor (1)


Sekilas tentang Candi Plaosan   
   Candi Plaosan terletak di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, kira-kira 1,5 km ke arah timur dari Candi Sewu. Candi ini merupakan sebuah kompleks bangunan kuno yang terbagi menjadi dua, yaitu kompleks Candi Plaosan Lor (lor dalam bahasa Jawa berarti utara) dan kompleks Candi Plaosan Kidul (kidul dalam bahasa Jawa berarti selatan). Candi ini terletak kira-kira satu kilometer ke arah timur-laut dari Candi Sewu atau Candi Prambanan. Adanya kemuncak stupa, arca Buddha, serta candi-candi perwara (pendamping/kecil) yang berbentuk stupa menandakan bahwa candi-candi tersebut adalah candi Buddha. 
   Candi Plaosan oleh para ahli diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram Hindu, yaitu pada awal abad ke-9 M. Salah satu pakar yang mendukung pendapat itu adalah De Casparis yang berpegang pada isi Prasasti Sri Kahulunan (842 M). Dalam prasasti tersebut dinyatakan bahwa Candi Plaosan Lor dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan, dengan dukungan suaminya. Menurut De Casparis, Sri Kahulunan adalah gelar Pramodhawardani, putri Raja Samarattungga dari Wangsa Syailendra. Sang Putri, yang memeluk agama Buddha, menikah dengan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya, yang memeluk agama Hindu.