Ada yang khas dalam penulisan
suara dīrgha “a”, atau yang disebut tarung/tedong di prasasti logam dari zaman Sri Suradhipa ini. Aksara-aksara
seperti: ṅa, ṭa, pa, la, dan ba akan punya bentuk yang berbeda
jika suara a-nya dipanjangkan. Hal ini dilakukan oleh citralekha
agar tidak terjadi kebingungan pembacaan. Soalnya, beberapa aksara yang
disebutkan di atas dapat memiliki bentuk yang mirip dengan aksara lain jika
tidak diakali pemasangan tarung/tĕdong-nya. Namun, untuk beberapa kasus,
pemasangan tarung/tĕdong tetap diseragamkan. Bisa dilihat seperti di
bawah ini:
 |
| Gambar 1 |
Bandingkan dengan:
 |
| Gambar 2 |
Namun, Jika diseragamkan:
 |
| Gambar 3 |
Pemasangan
tarung/tĕdong juga harus diperhatikan ketika membuat kluster
aksara (pasangan atau panganggé akṣara (gémpélan)).
 |
| Gambar 4 |
Sumber Gambar: socrates.leidenuniv.nl, OD. 3868-3874
Tidak ada komentar:
Posting Komentar