Rabu, 22 Oktober 2014
Tabel Aksara Kawi Standar
Belakangan, geliat teman-teman semakin terlihat dalam pelestarian aksara Kawi di dunia maya. Hal ini yang membuat saya semakin semangat, karena tidak semua teman yang semangat ini adalah orang-orang yang bekerja/belajar formal arkeologi. Perkembangan yang baik ini bisa saya amati ketika membaca artikel-artikel aksara kuna di internet, yang pada awalnya sangatlah sedikit. Nah, saya ambil contoh saja: Wikipedia. Sudah beberapa kali ditambahkan konten-konten tulisan mengenai aksara Kawi. Top lah. Tetap bekerja kawan-kawan.
Untuk kesekian kalinya saya menulis isi kepala mengenai aksara Kawi. Tulisan ini adalah revisi atas tabel aksara Kawi Awal yang pernah saya post. Jadi, tulisan saya yang dulu saya hapus saja, supaya tidak mubazir.
Untuk kesekian kalinya saya menulis isi kepala mengenai aksara Kawi. Tulisan ini adalah revisi atas tabel aksara Kawi Awal yang pernah saya post. Jadi, tulisan saya yang dulu saya hapus saja, supaya tidak mubazir.
Aksara Kawi Awal tipe standar, atau kalau boleh saya menyebutnya sebagai aksara Kawi Standar saja, adalah aksara Kawi yang muncul pada abad ke-9 hingga abad ke-10. Aksara tipe ini paling banyak digunakan pada masa pemerintahan Kayuwangi (856-882 M) dan Balitung (899-910 M), sedangkan pada pemerintahan Raja Daksa (910-919 M), tidak ditemukan banyak peninggalannya (de Casparis, 1975). Adapun prasasti yang memiliki aksara tipe ini adalah: p. Wanua Tĕngah, p. Polengan, p. Taji, p. Mantyasih, p. Jurungan, dll.
Bentuk aksara yang saya tampilkan pada tabel ini jelas tidak mewakili dengan persis gaya penulisan citralekha di prasasti-prasasti di atas. Aksara yang ada pada tabel ini adalah aksara Kawi Standar gaya saya. Namun, tentunya tetap dibuat berdasarkan ciri aksara yang muncul di prasasti-prasasti yang disebutkan sebelumnya. Selain dibuat berdasarkan pengamatan, tabel aksara ini juga disusun berdasarkan deskripsi dari buku Indonesian Palaeography oleh de Casparis (1975).
Senin, 29 September 2014
Prasasti Jragung dan Pedanda Buddha di Bali
![]() |
| Gambar 1. Prasasti Jragung di Prambanan |
Durgatipariśodhana Tantra adalah sebuah pustaka Buddhis yang merujuk pada tradisi Yoga Tantra. Ajaran ini dibabarkan oleh Buddha Śākyamuṇi kepada sekelompok dewa dalam bentuk percakapan dan tanya jawab. Di antara para dewa, terdapatlah Dewa Indra yang bertanya kepada Sang Buddha mengenai seorang dewa muda, Vimalamaṇiprabha yang terjatuh dari Surga 33 Dewa ke neraka avici. Buddha menjawab bahwa setelah dewa muda ini masuk ke neraka avici, dia mengalami penderitaan yang tak tertahankan. Para dewa sangat sedih dan terpukul mendengar kabar tersebut. Mengetahui keadaannya demikian, Dewa Indra bertanya kepada Buddha cara menyelamatkan Vimalamaṇiprabha sekaligus makhluk lain agar selamat dari deritanya dan segera terlahir kembali.
Sabtu, 27 September 2014
Membentuk Kluster dengan Aksara Bali Kuna ṇa, ña, dan ha
Aksara ṇa, ña, dan ha adalah
aksara yang khas dalam sistem penulisan aksara Kawi. Bagian stroke huruf yang digunakan untuk membentuk ligatur sering
tidak konsisten, terkadang terdapat di tengah, atau di akhir. Namun menurut
beberapa kasus yang terjadi di prasasti aksara Kawi awal di Jawa, ketiga aksara
ini memiliki stroke dan finial yang unik.
![]() |
| Gambar 1. Stroke dan Finial pada Aksara ha, ṇa, dan ña |
Minggu, 10 Agustus 2014
Pemasangan Wirama di Prasasti Logam Zaman Sri Suradhipa
Tulisan ini masih dalam seri prasasti Bali Kuno yang ditatahkan pada logam di zaman Raja Sri Suradhipa. Dalam prasasti ini, ternyata pemasangan wirama/adegadeg/paten memiliki pola tersendiri. Wirāma/ patén/ adegadeg berbentuk setengah atau tigaperempat lingkaran yang
ditulis/dipahat dari atas aksara ke arah jarum jam sampai bawah aksara.
![]() |
| Gambar 1 |
Terdapat beberapa kasus
pengecualian untuk ka, ta, dan ga. Ketiga aksara ini merupakan aksara yang memiliki kuncir ketika berdiri sendiri. Namun, ketika mendapat pemasangan wirama, kuncir tersebut dihilangkan.
Jumat, 08 Agustus 2014
Pemasangan Tedong pada Prasasti Logam dari Zaman Sri Suradhipa
Ada yang khas dalam penulisan
suara dīrgha “a”, atau yang disebut tarung/tedong di prasasti logam dari zaman Sri Suradhipa ini. Aksara-aksara
seperti: ṅa, ṭa, pa, la, dan ba akan punya bentuk yang berbeda
jika suara a-nya dipanjangkan. Hal ini dilakukan oleh citralekha
agar tidak terjadi kebingungan pembacaan. Soalnya, beberapa aksara yang
disebutkan di atas dapat memiliki bentuk yang mirip dengan aksara lain jika
tidak diakali pemasangan tarung/tĕdong-nya. Namun, untuk beberapa kasus,
pemasangan tarung/tĕdong tetap diseragamkan. Bisa dilihat seperti di
bawah ini:
![]() |
| Gambar 1 |
Selasa, 05 Agustus 2014
Tabel Angka Bali Kuna Lengkap dari Zaman Sri Suradhipa
Sumber gambar: Universitas Leiden, OD-3868, OD-3869, OD-3870, OD-3871, OD-3872, OD-3873, OD-3874
Angka yang
berasal dari beberapa gambar prasasti di bawah ini lengkap. Semua bilangan dari
angka 1 sampai dengan 0 terdapat baik di teks maupun penanda halaman lempeng. Bentuk
dari angka-angka ini memiliki bentuk yang menyerupai beberapa objek atau huruf. Berikut adalah gambarnya.
Langganan:
Postingan (Atom)





