Kamis, 16 Mei 2013

Prasasti Lokanatha dari Padang Lawas

Gambar 1. Arca Bhatara Lokanatha (sumber: Bernet-Kempers 1959)

     Prasasti Bhatara Lokanātha ditemukan di Gunung Tua, Kecamatan Gunung Tua, Kabupaten Padang Lawas, sekarang disimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris B. 626b. Prasasti menggunakan aksara Pasca Pallawa, bahasa yang dipergunakan adalah Melayu Kuno. Prasasti ditulis tiga baris pada bagian belakang lapik arca Lokanātha, arca tersebut digambarkan berdiri (ābańga) pada lapik berbentuk teratai diapit oleh arca Tārā di kanan-kirinya, namun arca Tārā tersebut tinggal satu. Arca Tārā digambarkan duduk bersila di atas lapik teratai. Ketiga bantalan teratai berada pada alas yang berdenah segi empat, tempat dituliskan prasasti.

Gambar 2. Prasasti Lokanatha (dokumentasi B. B. Utomo)

Selasa, 14 Mei 2013

Kronogram dari Mojokerto


      Kronogram, atau lebih dikenal dengan  sengkalan di Nusantara, adalah sebuah metode penggunaan kata-kata menjadi sebuah kalimat untuk menggantikan angka tahun. Sengkalan sendiri terbagi menjadi dua, yaitu suryasengkala dan candrasengkala. Dari asal katanya, suryasengkala disusun dari dua kata, surya berarti matahari dan sengkala berarti tahun. Jadi bisa dikatakan bahwa suryasengkala adalah penulisan tahun berdasarkan perputaran matahari (tahun matahari/solar). Sedangkan candrasengkala sendiri berarti penulisan tahun berdasarkan perputaran bulan (tahun bulan/lunar) Kata-kata yang ada di sengkalan mengandung makna tersendiri yang mewakili angka tertentu. Contoh, kata sirna yang berarti hilang; pergi, mewakili angka 0 (nol). Uniknya lagi, angka dari candrasengkala tidak dibaca sesuai dengan urutan katanya (kiri ke kanan), tapi dibaca terbalik. Salah satu sengkalan yang terkenal adalah sirna (0) ilang (0) kertaning (4) bhumi (1) (1400 Saka), yang merupakan tanda dari kemunduran Majapahit. Berikut ini adalah salah satu contoh kronogram, walaupun yang tidak terkenal, tapi ini salah satu kronogram yang saya coba pecahkan sendiri. Hehe



Gambar 1. OD-1740.

Kamis, 09 Mei 2013

Tiga Prasasti Patapan dari Kali Garang

      Patapan, sebuah kata dari bahasa Jawa Kuna yang berarti tempat bertapa. Patapan memiliki akar kata tapa yang berarti praktik penyangkalan diri, praktik asketisme, atau disiplin diri dalam hal spiritual. Tiga gambar prasasti yang didapat dari halaman Perpustakaan Universitas Leiden ini berasal dari Kali Garang, Semarang, Jawa Tengah. Prasasti-prasasti ini berisikan batas-batas patapan itu sendiri. Dua prasasti di antaranya memuat kata kidul (selatan) dan laur (lor/utara). Satu prasasti terakhir punya dua aksara sejenis yang  memiliki bentuk 'tidak biasa'. Sepertinya aksara ini paling cocok dialihaksarakan sebagai lu (dalam kata luah). Patén/adĕgadĕg/wirama pada prasasti ini mengingatkan pada wirama yang ada pada prasasti Wayuku yang bertarikh 779 Śaka. Apakah prasasti ini berasal pada era yang berdekatan? Dengan dimensi 37 x 30 x 30 cm, berikut ini alihaksaranya.

Selasa, 09 Oktober 2012

Prasasti Pasir Panjang yang beraksara Lantsa!

Prasasti Pasir Panjang

Catatan tertua tentang masuknya aksara Nāgarī telah adalah tahun 700 Masehi. Aksara Nāgarī  berkembang di India yang menurunkan banyak sistem penulisan di sana. Aksara ini merupakan aksara yang berasal dari daerah timur laut India, berbeda dengan Pallawa yang berasal dari bagian India Selatan. Jenis aksara ini pun beraneka ragam di beberapa prasasti. Di Pasir Panjang, ditemukan yang satu ini; aksara yang disebut Nāgarī Awal. Aksara ini mirip dengan aksara Rañjana atau Lantsa yang sebagian besar digunakan oleh penganut Mahāyāna di daerah Nepal dan Tibet. Karimun Besar bukan merupakan daerah penting dalam dunia pemerintahan terdahulu, oleh karena itu penemuan prasasti ini cukup mengagetkan. Prasasti ini diduga dibuat pada tahun 900-1000 Masehi pada akhir masa Śrīwijaya oleh para terpelajar yang sudah belajar di negeri India (Bengal). Prasasti ini diukir di permukaan batu granit, dengan tiga baris tulisan dan 17 aksara.
Gambar 1. Foto prasasti diambil dari atas.
Sumber:  Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 150 (1994), no: 3.



Gambar 2. Foto prasasti diambil dari bawah.
Sumber: http://2.bp.blogspot.com/_t-zFMe3ahlY/TLqxj7wmHQI/
AAAAAAAADPI/oIlo8u3nH4c/s1600/
untitled.bmp

Gambar 3.
Lihat ligatur gau  pada alinea 3 (OD-20248).

Gambar 4. 
Salinan aksara pada prasasti.
Sumber: Pribadi.



Alihaksara Aksara di Arca Agastya

OD-1176c

      Ada tujuh Maha Rsi yaitu Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasista, dan Kanwa yang menerima wahyu Weda di India sekitar 3000 tahun sebelum Masehi.  Mereka mengembangkan agama Hindu masing-masing menurut bagian-bagian Weda tertentu. Kemudian para pengikutnya mengembangkan ajaran yang diterima dari guru mereka sehingga lama kelamaan terbentuklah sekta-sekta yang jumlahnya ratusan. 
     Sekte-sekte yang terbanyak pengikutnya antara lain: Pasupata, Linggayat Bhagawata, Waisnawa, Indra, Saura, dan Siwa Siddhanta. Sekta Siwa Siddhanta dipimpin oleh Maha Rsi Agastya di daerah Madyapradesh (India tengah) kemudian menyebar ke Indonesia. 



Gambar 1. Arca Rsi Agastya dari Singasari

      Di Indonesia seorang Maha Rsi pengembang sekta ini dikenal dengan berbagai nama antara lain : Kumbhayoni, Hari Candana, Kalasaja, dan Trinawindu. Di Indonesia dengan jelas disebut dalam prasasti Dinaya.

Aksara Kawi di Candi Plaosan Lor (4)

Postingan ini terwujud setelah ada permintaan dari pian Anang. Ada beberapa ukiran yang masih tercecer untuk dialih-aksarakan :p. Terimakasih Pian, sudah memberikan saran untuk memperkaya blog ini...
Ada enam buah ukiran aksara yang akan dialihaksarakan di postingan kali ini. Silakan menikmati!


Gambar 1. OD-18969
Alih-aksara:
anumoda saŋ maŋḍaṇḍar pu tahun


Gambar 2. OD-18976
Alih-aksara:
anumoda saŋ ḍāṅgul pu candra


Sabtu, 06 Oktober 2012