Rabu, 25 September 2013

Langka! Teks Dharani Buddhis di Prasasti Logam Nusantara


Gambar1. OD-2195
(1) // tadyathā oṁ wipula garbhe wipula bimale jaya garbhe wajrajvāla ga
(2) rbhbhe gati gahane gagana wiśodhane sarbwa pāpa wiśoḍhane oṁ gu
(3) nawatī gagana wicāriṇi giri giri ' gamari gamari gaha gaha ' ga
(4) rbhbhāri garbhbhāri ' gabhari gabhari gambhari gambhari ' gati gati ' ga
(5) ni gamare gubha gubha gubhani gubhani cale bimale mu
(6) cĕle jaye wijaye ' sarbwa bhaya wigate
(7) gambha sambharaṇi siri siri miri mi
(8) ri piri piri ghiri ghiri sama
(9) ntā kamāṇi sabisatra pramaṣāni
(10) rakṣa rakṣa masa pariwara (sakṣi)sakṣi
(11) śca ' wiri wiri wiri dhādharaṇa wina
(12) śini muri muri mili mili ' ka
(13) male wimale jaye wi
(14) jaye jayā wijayā jayā
(15) wati bhagawati ratna maku
(16) ṭa malādhari wahuwika wicitra weśa dha
(17) riṇi ' bhagawati mahāwidyā dewi rakṣa

Senin, 23 September 2013

Jejak Vajrayana di Prasasti Jragung

Ternyata gambar prasasti yang ada di postingan saya yang ini adalah prasasti Jragung. Prasasti Jragung merupakan prasasti berbentuk lingga berbahan batu yang berisikan mantra sansekerta. Mantra sebenarnya lebih sering ditatahkan di atas peripih daripada batu seperti ini. Jadi bisa dibilang bahwa prasasti in adalah barang langka J

Nah, setelah lama tidak diusik, saya menemukan ada sebuah mantra Vajrayana yang mirip dengan mantra yang dipahat di prasasti ini. Mantra ini biasa disebut dengan kīlanamantra (mantra pancang), sarvatraidhātukakāyavākcittakīlana-mantra (mantra pemancang tubuh, perkataan, dan pikiran bagi tiga alam). Mantra ini ditujukan kepada Vajrakīla, seorang tokoh surgawi Vajrayana. Mantra ini terdapat pada Vajravārāhī Sādhana oleh Umāpatideva (English, 2002) dan Piṇḍīkrama Sādhana (Brood, 1993) Berikut ini kutipan mantra beserta variannya.


Senin, 16 September 2013

Alih-aksara Prasasti Bata dari Candi Muara Takus

      Terima kasih atas hukum ketertarikan, sepertinya saya punya jodoh dengan gambar ini. Sudah lama saya menemukannya, namun petunjuk yang ada nampaknya belum cukup untuk memecahkan alihaksaranya. Beberapa saat yang lalu, +Bhagya Ng pernah mengirimi saya gambar ini dan kami coba-coba mengalihaksarakannya. Kami punya alihaksara masing-masing, dan ternyata di antara kami nggak ada yang bener alihkasaranya waktu itu. Haha...
Baru-baru ini, pian Anang mempostkan gambar ini di blognya. Beberapa kali ketemu gambar ini kok sepertinya dia terus menggoda untuk bisa dibaca.
kern-gd-13-1321
      Setelah mencari-cari di beberapa sumber, saya belum menemukan nama prasasti ini. Menurut Suleiman (Susetyo, 2010, p. 207), aksara prasasti ini mirip dengan aksara pada prasasti Aek Sangkilon dari Padang Lawas, Sumatera Utara yang secara relatif berasal dari abad ke-14 Masehi. Berbeda dengan Suleiman, Schnitger (Susetyo, 2010, p. 208) berpendapat bahwa aksara ini berasal dari abad ke-12 Masehi. Jika dilihat, penggunaan aksara Nagari tipe ini memang pernah digunakan selama masa pemerintahan Krtanagara pada abad ke-12 di Singasari. Aksaranyapun mirip dengan prasasti di punggung patung Amoghapasa di Candi Jago.

Kamis, 16 Mei 2013

Prasasti Lokanatha dari Padang Lawas

Gambar 1. Arca Bhatara Lokanatha (sumber: Bernet-Kempers 1959)

     Prasasti Bhatara Lokanātha ditemukan di Gunung Tua, Kecamatan Gunung Tua, Kabupaten Padang Lawas, sekarang disimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris B. 626b. Prasasti menggunakan aksara Pasca Pallawa, bahasa yang dipergunakan adalah Melayu Kuno. Prasasti ditulis tiga baris pada bagian belakang lapik arca Lokanātha, arca tersebut digambarkan berdiri (ābańga) pada lapik berbentuk teratai diapit oleh arca Tārā di kanan-kirinya, namun arca Tārā tersebut tinggal satu. Arca Tārā digambarkan duduk bersila di atas lapik teratai. Ketiga bantalan teratai berada pada alas yang berdenah segi empat, tempat dituliskan prasasti.

Gambar 2. Prasasti Lokanatha (dokumentasi B. B. Utomo)

Selasa, 14 Mei 2013

Kronogram dari Mojokerto


      Kronogram, atau lebih dikenal dengan  sengkalan di Nusantara, adalah sebuah metode penggunaan kata-kata menjadi sebuah kalimat untuk menggantikan angka tahun. Sengkalan sendiri terbagi menjadi dua, yaitu suryasengkala dan candrasengkala. Dari asal katanya, suryasengkala disusun dari dua kata, surya berarti matahari dan sengkala berarti tahun. Jadi bisa dikatakan bahwa suryasengkala adalah penulisan tahun berdasarkan perputaran matahari (tahun matahari/solar). Sedangkan candrasengkala sendiri berarti penulisan tahun berdasarkan perputaran bulan (tahun bulan/lunar) Kata-kata yang ada di sengkalan mengandung makna tersendiri yang mewakili angka tertentu. Contoh, kata sirna yang berarti hilang; pergi, mewakili angka 0 (nol). Uniknya lagi, angka dari candrasengkala tidak dibaca sesuai dengan urutan katanya (kiri ke kanan), tapi dibaca terbalik. Salah satu sengkalan yang terkenal adalah sirna (0) ilang (0) kertaning (4) bhumi (1) (1400 Saka), yang merupakan tanda dari kemunduran Majapahit. Berikut ini adalah salah satu contoh kronogram, walaupun yang tidak terkenal, tapi ini salah satu kronogram yang saya coba pecahkan sendiri. Hehe



Gambar 1. OD-1740.

Kamis, 09 Mei 2013

Tiga Prasasti Patapan dari Kali Garang

      Patapan, sebuah kata dari bahasa Jawa Kuna yang berarti tempat bertapa. Patapan memiliki akar kata tapa yang berarti praktik penyangkalan diri, praktik asketisme, atau disiplin diri dalam hal spiritual. Tiga gambar prasasti yang didapat dari halaman Perpustakaan Universitas Leiden ini berasal dari Kali Garang, Semarang, Jawa Tengah. Prasasti-prasasti ini berisikan batas-batas patapan itu sendiri. Dua prasasti di antaranya memuat kata kidul (selatan) dan laur (lor/utara). Satu prasasti terakhir punya dua aksara sejenis yang  memiliki bentuk 'tidak biasa'. Sepertinya aksara ini paling cocok dialihaksarakan sebagai lu (dalam kata luah). Patén/adĕgadĕg/wirama pada prasasti ini mengingatkan pada wirama yang ada pada prasasti Wayuku yang bertarikh 779 Śaka. Apakah prasasti ini berasal pada era yang berdekatan? Dengan dimensi 37 x 30 x 30 cm, berikut ini alihaksaranya.